Scroll ke Bawah Membaca Artikel
DaerahNasionalNewsRagam

Pelayanan Pemuda Bukan Panggung, Tapi Proses Pembentukan

477
×

Pelayanan Pemuda Bukan Panggung, Tapi Proses Pembentukan

Sebarkan artikel ini
Ev. Adolop Gobai, S.Th.

KORANPUBLIKA.CO.ID|Nabire, Papua Tengah,- Sering kali pelayanan pemuda Kingmi Se-Tanah Papua diukur dari seberapa ramai acaranya, seberapa indah dekorasinya, atau seberapa viral dokumentasinya. Padahal, esensi pelayanan pemuda di gereja-gereja Kingmi Papua Tengah tidak pernah ada di panggung. Esensinya ada di proses pembentukan, Sabtu(25/4/2026).

Dalam perjalanan saya melayani pemuda Kingmi Sinode Papua Tengah, semakin jelas bahwa setiap pertemuan menyimpan cerita, dan setiap cerita menyimpan pembentukan dari Tuhan.

Scroll ke Bawah Terus Membaca Artikel
Example 300x600
Advertorial

Kita terlalu sibuk mengejar “sukses pelayanan” versi manusia: jumlah peserta, banyaknya like di Instagram, atau tepuk tangan meriah. Namun, kita lupa bahwa Tuhan justru bekerja paling dalam di ruang-ruang yang tidak terlihat.

Tiga Pelajaran dari Pelayanan Pemuda

1. Kesetiaan yang mahal
Saya melihat pemuda yang tetap datang latihan paduan suara meski harus berjalan kaki tiga jam. Ada yang tetap hadir doa pagi meski semalam menjaga orang tua di rumah sakit. Kesetiaan seperti ini tidak bisa dipertontonkan di panggung; ia ditempa dalam keterbatasan.

2. Kerendahan hati yang tulus
Di era ketika banyak orang ingin menjadi content creator rohani, ada pemuda yang memilih menjadi “tim beres-beres kursi” setelah ibadah. Tidak diposting, tidak dikenal, tidak mendapat sorotan. Namun tanpa mereka, ibadah tidak berjalan. Inilah cermin Kristus: melayani tanpa sorotan.

3. Sekolah kasih yang jujur
Mudah merangkul teman yang sepaham. Tetapi pelayanan memaksa kita merangkul yang menyebalkan, yang mengkhianati, atau yang lambat berubah. Di titik inilah kasih diuji: apakah kita melayani manusia, atau melayani Tuhan lewat manusia.

Masalah terbesar pemuda hari ini adalah keinginan untuk hasil tanpa proses, mahkota tanpa salib, pujian tanpa pembentukan. Padahal, kegagalan dalam pelayanan bukanlah aib, melainkan kelas pendewasaan. Keberhasilan pun bukan trofi, melainkan bukti penyertaan Tuhan, bukan kehebatan kita.

Karena itu, pelayanan tidak boleh dijadikan ajang unjuk kemampuan. Pelayanan adalah soal hati yang rela dibentuk. Skill bisa dilatih, tetapi karakter hanya bisa ditempa Tuhan melalui gesekan dengan sesama.

Kepada generasi muda yang sedang lelah melayani: cerita kalian tidak sia-sia.

* Setiap tetes keringat yang tidak dilihat orang, dicatat di surga.
* Setiap air mata yang jatuh saat kecewa dengan teman sepelayanan, dipakai Tuhan untuk melembutkan hati.

Jangan berhenti hanya karena tidak diapresiasi. Jangan mundur hanya karena tidak naik panggung. Cerita pelayananmu bukan untuk dikenang di feed Instagram, tetapi untuk dibagikan agar menjadi berkat.

Pada akhirnya, yang Tuhan tanyakan bukanlah: “Seberapa hebat acaramu?”
Melainkan: “Seberapa lembut hatimu setelah melayani?”

Pelayanan pemuda bukan tentang kita. Dari awal sampai akhir, ini tentang Dia yang memanggil, membentuk, dan memakai kita.

Opini oleh Ev. Adolop Gobai, S.Th.

example 325×300