Scroll ke Bawah Membaca Artikel
DaerahEkonomiNasionalNewsRagam

Sulit Mendapatkan BBM, Warga di Langkaplancar Pangandaran Menjerit

698
×

Sulit Mendapatkan BBM, Warga di Langkaplancar Pangandaran Menjerit

Sebarkan artikel ini
Tampak warga di Kec Langkaplancar tengah mengantri untuk membeli BBM eceran di salah satu kios, Rabu, 2 September 2026

KORANPUBLIKA.CO.ID|Pangandaran,– Warga Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, hingga kini masih menghadapi kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).

Pasalnya, di wilayah yang dihuni sekitar 50 ribu penduduk tersebut belum terdapat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Scroll ke Bawah Terus Membaca Artikel
Example 300x600
Advertorial

Kondisi ini menjadi persoalan serius karena mayoritas masyarakat Langkaplancar bekerja sebagai petani dan pekebun yang sangat bergantung pada BBM untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Warga terpaksa mengandalkan kios penjual bensin atau harus membeli BBM ke SPBU yang berada di Kecamatan Parigi. Jaraknya mencapai sekitar 60 kilometer dari Langkaplancar.

Jarak yang cukup jauh tersebut tentu menjadi beban bagi masyarakat, terutama mereka yang tinggal di desa-desa yang berada jauh dari pusat kecamatan.

Salah seorang warga Kec Langkaplancar, Anton, mengatakan kondisi geografis wilayahnya yang berada di kawasan pegunungan menjadi salah satu kendala dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, termasuk BBM.

“kendalanya adalah di sini (Langkaplancar) tidak ada pom bensin dan hanya mengandalkan kios bensin, sementara kehidupan ekonomi harus berjalan,” kata Anton, Rabu, 2 September 2026.

Menurutnya, masyarakat sebenarnya memahami aturan terkait pembelian BBM menggunakan jeriken. Warga juga dapat memenuhi persyaratan administrasi yang ditentukan pemerintah.

“Kita sadar hukum dan aturan. Membeli BBM dengan jerigen juga dengan aturan dan mekanisme. Ada surat dari Dinas Pertanian, ada dari pemerintah desa dan surat rekomendasi yang diperlukan,” ujarnya.

Namun, persoalannya adalah bagaimana masyarakat dapat memenuhi kebutuhan BBM jika SPBU tidak tersedia di wilayah Langkaplancar.

“Karena mayoritas penduduk di Kecamatan Langkaplancar ini bekerja sebagai petani yang sangat membutuhkan BBM untuk kendaraan motor, traktor, gergaji mesin, pompa air dan lainnya,” tutur Anton.

Keluhan masyarakat tersebut juga dibenarkan Anggota DPRD Kabupaten Pangandaran, Dede Efendi. Menurut Dede, Kecamatan Langkaplancar memiliki sekitar 50 ribu penduduk yang tersebar di 15 desa. Mayoritas masyarakat menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian dan perkebunan.

“Mereka mayoritas bekerja sebagai petani dan berkebun, semua kegiatannya memerlukan BBM,” kata Dede.

Dede mengatakan, ketiadaan SPBU membuat masyarakat selama ini harus membeli BBM menggunakan jeriken dari SPBU yang berjarak sekitar 60 kilometer. Namun, belakangan warga semakin kesulitan mendapatkan BBM dengan cara tersebut.

“Tapi sekarang-sekarang ini sulit untuk membeli BBM menggunakan jerigen ke SPBU,” ujarnya.

Dede menjelaskan, persoalan tersebut sebenarnya sudah beberapa kali dibahas melalui pertemuan dengan sejumlah instansi, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten.

Dari pembahasan tersebut, sempat muncul kebijakan khusus agar masyarakat Langkaplancar dapat membeli BBM menggunakan jeriken dengan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.

“Syaratnya yang penting sesuai prosedur dengan mengantongi surat rekomendasi dari dinas terkait (Dinas Pertanian),” katanya.

Dede menuturkan, belum adanya SPBU di Langkaplancar salah satunya disebabkan kondisi akses jalan menuju wilayah tersebut.
Jalan yang berkelok-kelok dan memiliki sejumlah tanjakan serta turunan curam dinilai menyulitkan kendaraan tangki pengangkut BBM untuk masuk ke wilayah Langkaplancar.

“Kendalanya akses jalan, sehingga kendaraan tanki pengangkut BBM dari Pertamina tidak dapat menempuh perjalanan ke wilayah Kecamatan Langkaplancar,” ujarnya.

Padahal, kebutuhan BBM masyarakat cukup tinggi. Selain digunakan untuk kendaraan sehari-hari, BBM juga dibutuhkan untuk mendukung aktivitas pertanian seperti mengoperasikan traktor, mesin pemotong, hingga pompa air.

Dede berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait dapat mencari solusi untuk mengatasi persoalan tersebut.

Menurutnya, salah satu solusi jangka panjang adalah memikirkan pembangunan SPBU atau fasilitas penyaluran BBM yang lokasinya lebih dekat dengan masyarakat Langkaplancar.

“Ke depan pemerintah harus memikirkan terkait syarat utama untuk membuat SPBU dan meminta kepada semua pihak untuk bisa memberikan kebijakan khusus untuk masyarakat di Kecamatan Langkaplancar terkait pemenuhan kebutuhan BBM,” pungkasnya.

Terpantau di salah satu kios bensin di Desa Cimanggu, Kec Langkaplancar, seorang petani bernama Tesa Rodiansyah merasa kecewa karena tidak kebagian BBM, karena kehabisan. Saat ditanya, ia mengaku sudah dua hari tidak mendapatkan BBM.

“Kemarin gak kebagian, sekarang juga. Saya kan harus nganter hasil pertanian. Mana harga timun sedang turun,” ucap Tesa kesal.

example 325×300