Scroll ke Bawah Membaca Artikel
DaerahEkonomiNasionalNewsRagam

Nelayan di Pangandaran Diajari Tekhnologi untuk Mengetahui Lokasi Ikan

704
×

Nelayan di Pangandaran Diajari Tekhnologi untuk Mengetahui Lokasi Ikan

Sebarkan artikel ini
Seorang Mahasiswi ITB sedang mengajari aplikasi tangkap kepada salah satu nelayan di aula Desa Pangandaran, Jum'at, 4 September 2026.

KORANPUBLIKA.CO.ID|Pangandaran,– Nelayan di Desa Pangandaran, Kecamatan/ Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat belajar menggunakan teknologi modern.

Inovasi yang dikembangkan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) bernama Aplikasi Tangkap ini untuk membantu nelayan menemukan lokasi potensial ikan sekaligus memandu navigasi menuju area tersebut.

Scroll ke Bawah Terus Membaca Artikel
Example 300x600
Advertorial

Aplikasi Tangkap merupakan singkatan dari Teknologi Penangkapan Ikan dan Navigasi Kapal. Aplikasi ini dikembangkan untuk memberikan informasi kepada nelayan mengenai potensi keberadaan ikan di laut berdasarkan hasil penelitian dan pemanfaatan data citra satelit.

Wiwin Windupranata Ketua Kelompok Keahlian Hidrografi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, mengatakan sosialisasi dan implementasi aplikasi tersebut dilakukan untuk membantu nelayan, khususnya di Desa Pangandaran, dalam aktivitas penangkapan ikan.

“Kegiatan ini dalam rangka sosialisasi dan implementasi dari aplikasi Tangkap yang dicoba dibuat di ITB untuk membantu nelayan di Desa Pangandaran dalam hal penangkapan ikan,” ujar Wiwin, Sabtu , 5 September 2026.

Menurutnya, aplikasi Tangkap tidak hanya memberikan informasi mengenai lokasi potensial ikan, tetapi juga dilengkapi fitur navigasi untuk membantu nelayan menuju lokasi tersebut.

Melalui aplikasi ini, nelayan dapat mengetahui arah perjalanan, jarak menuju lokasi, hingga perkiraan waktu tempuh. Selain itu, aplikasi juga memberikan informasi mengenai kondisi laut, seperti gelombang, angin, dan cuaca.

“Jadi menunjukkan arah, berapa lama ke sananya, seberapa jauh, dan juga kondisi lautnya. Kita memberikan informasi keadaan gelombang, angin, dan cuaca pada umumnya,” katanya.

Informasi tersebut juga dilengkapi rekomendasi mengenai tingkat keamanan perjalanan menuju lokasi potensial ikan.

Wiwin menjelaskan, teknologi yang digunakan dalam aplikasi Tangkap merupakan hasil pengembangan dari penelitian yang telah dilakukan dalam waktu cukup lama. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu dengan metode tersebut, tingkat potensi keberadaan ikan di lokasi yang direkomendasikan dinilai cukup tinggi.

“Akurasi, berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan cukup lama, dari hasil-hasil terdahulu dengan metode ini untuk potensi ikan bisa dikatakan cukup besar. Artinya, di atas 70 persen itu memang ada ikan di situ,” jelasnya.

Wiwin mengatakan, sebelumnya informasi mengenai potensi lokasi ikan juga telah tersedia dalam bentuk peta yang dikeluarkan secara berkala oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Namun, penggunaan peta konvensional dinilai kurang praktis bagi nelayan karena harus diunduh, dicetak, dan dibawa ke kapal. Karena itu, ITB mencoba mengembangkan informasi tersebut dalam bentuk digital yang dapat langsung diakses melalui telepon pintar.

“Supaya memudahkan nelayan melihat peta itu dan melakukan navigasinya,” ujarnya.

Salah satu keunggulan aplikasi Tangkap adalah kemampuannya menyajikan informasi mengenai lokasi potensial ikan berdasarkan data terkini dari citra satelit. Data tersebut kemudian diinterpretasikan untuk memperkirakan lokasi keberadaan ikan pada waktu tertentu.

“Jadi dari aplikasi yang lainnya, kelebihannya adalah memunculkan informasi terkini mengenai ikan itu ada di mana. Itu berdasarkan informasi terkini juga dari citra satelit,” kata Wiwin.

Selain informasi lokasi ikan, aplikasi tersebut juga memiliki fitur navigasi yang konsepnya mirip dengan aplikasi navigasi seperti Google Maps atau Waze, tetapi dirancang untuk kebutuhan perjalanan di laut. Fitur tersebut membantu nelayan mengetahui arah dan jarak menuju lokasi potensial ikan yang telah direkomendasikan.

Meski data dari satelit memiliki cakupan wilayah yang luas, ITB tidak serta-merta memberikan rekomendasi lokasi yang terlalu jauh dari garis pantai.

Hal ini disesuaikan dengan karakteristik kapal nelayan di Pangandaran yang sebagian besar memiliki keterbatasan dalam menjangkau wilayah laut yang terlalu jauh.

“Kami batasi area cakupannya karena nelayan di Pangandaran punya keterbatasan dalam hal untuk menjangkaunya. Jadi memang kami batasi hanya area yang tidak terlalu jauh dari pantai,” tuturnya.

Wiwin menambahkan, jenis ikan yang berada di lokasi tertentu juga belum dapat diklasifikasikan secara spesifik melalui aplikasi tersebut. Menurutnya, kemampuan untuk mengetahui jenis ikan menjadi salah satu permintaan nelayan yang perlu dikembangkan lebih lanjut.

“Sampai saat ini memang yang kami kembangkan, karena aplikasinya baru kami kembangkan setahun terakhir, kami belum bisa mengklasifikasi ini ikannya apa,” katanya.

Meski secara teori memungkinkan, pengembangan fitur tersebut masih membutuhkan penelitian dan pengujian lebih lanjut di lapangan. Wiwin berharap aplikasi Tangkap dapat terus dikembangkan sehingga nantinya mampu memberikan informasi yang lebih spesifik, termasuk jenis ikan yang berpotensi berada di suatu lokasi.

Selain digunakan oleh nelayan di Desa Pangandaran, ia berharap aplikasi tersebut nantinya dapat dimanfaatkan oleh nelayan di desa-desa lainnya.

“Kalau memang ini bisa bermanfaat untuk desa-desa lain, tentunya kami akan sangat bergembira juga dipakai di tempat lain,” ujarnya.

Wiwin menyebut kegiatan sosialisasi dan implementasi aplikasi Tangkap tersebut terlaksana berkat inisiatif Kepala Desa Pangandaran.

Kepala Desa Pangandaran Adi Fitriadi mengatakan, inisiatif ini untuk membantu warganya yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan.

“Saya yang meminta ke pak Wiwin (Dosen ITB) langsung untuk membantu warga nelayan dalam mencari ikan, sehingga bisa menambah perekonomiannya,” ujar Adi.

example 325×300