Scroll ke Bawah Membaca Artikel
225×600
DaerahEkonomiNasionalNewsRagam

Isaias Douw: Suku Mee dan Kamoro Harus Selesaikan Persoalan Kapiraya Secara Adat

488
×

Isaias Douw: Suku Mee dan Kamoro Harus Selesaikan Persoalan Kapiraya Secara Adat

Sebarkan artikel ini
Mantan Bupati Nabire dua periode, Isaias Douw.

KORANPUBLIKA.CO.ID|Nabire, Papua Tengah,- Menanggapi masalah yang terjadi di Kapiraya antara Suku Mee dan Kamoro di Timika, mantan Bupati Nabire dua periode, Isaias Douw, menegaskan bahwa kedua suku tersebut adalah bersaudara.

Sebagai tokoh masyarakat Papua Tengah sekaligus anak adat, Isaias meminta agar persoalan tanah diselesaikan melalui mekanisme adat dan budaya.

Scroll ke Bawah Terus Membaca Artikel
Example 300x600
Advertorial

“Masalah tanah tidak boleh direkayasa. Yang benar tetap benar, yang salah tetap salah. Tanah milik Kamoro jangan diambil Mee, begitu juga sebaliknya. Kalau ada yang mencuri tanah, keturunannya akan habis. Itu berlaku bagi Mee maupun Kamoro,” tegas Isaias, Rabu (18/2/2026).

Isaias menekankan pentingnya menghormati batas-batas wilayah yang telah diturunkan oleh leluhur. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan masyarakat Mee juga tidak lepas dari peran Kamoro, terutama melalui pintu masuk agama Katolik dan pendidikan sejak masa awal di Kokonau hingga wilayah Mee.

“Masalah tapal batas jangan dianggap remeh. Harus diselesaikan sesuai budaya, termasuk melalui hasil hutan yang menjadi bagian dari adat Mee dan Kamoro,” ujarnya.

Isaias meminta pihak luar untuk tidak ikut campur. Menurutnya, penyelesaian harus dilakukan melalui MRP Adat, DPRP Adat, DPRD Adat, serta koordinasi antar kepala suku.

Ia juga menekankan perlunya penetapan tapal batas yang jelas, terutama terkait hasil tambang dan hutan, agar tidak menimbulkan konflik baru. Pemerintah daerah, termasuk Bupati Timika, Deiyai, Dogiyai, dan Paniai, diminta segera menindaklanjuti persoalan ini karena merupakan satu kesatuan dalam Provinsi Papua Tengah.

Selain itu, Isaias mengimbau masyarakat Dogiyai, Deiyai, dan Paniai untuk menahan diri terkait persoalan kebakaran agar tidak berkelanjutan. Ia meminta agar masalah tersebut diserahkan kepada pemerintah provinsi maupun kabupaten untuk diselesaikan.

“Saya menghimbau saudara-saudara saya, Suku Mee dan Kamoro, agar tidak mengulang konflik. Keputusan kepala suku harus menjadi dasar agar ke depan tidak terjadi hal serupa yang merugikan masyarakat,” katanya.

Menutup pernyataannya, Isaias mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh pihak luar.

“Suku Mee dan Kamoro sejak dulu sudah hidup berdampingan. Jangan mudah termakan hasutan,” tegasnya.

example 325×300