KORANPUBLIKA.CO.ID|Tumohon, Makasar,– Ada satu rumah kecil di Tomohon, Sulawesi Utara. Dindingnya mungkin tidak terbuat dari kayu Matoa, atapnya bukan dari rumput alang-alang. Tapi di dalamnya, napas Deiyai terasa begitu kental.
Rumah itu bernama IPMADEI
Hari ini, Kamis, 24 September 2026, rumah itu berusia 15 tahun. Bagi orang lain, 15 tahun hanyalah angka. Bagi kami, 15 tahun adalah cerita tentang air mata, rindu, lapar, dan doa yang tidak pernah putus di tanah rantau.
Lima belas tahun lalu, kami datang ke Tomohon bukan sebagai siapa-siapa. Kami hanya anak-anak kampung dari Tigi, Kapiraya, Bowobado yang membawa satu harapan di dalam noken: ingin sekolah.
Di tanah asing yang dingin, kami saling mencari. Dan kami menemukan satu nama untuk saling memanggil: IPMADEI – Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Deiyai.
Kita Tidak Berkumpul Untuk Pesta, Kita Berkumpul Untuk Bersujud
HUT Ke-XV kali ini berbeda. Panitia tidak memilih motto tentang kejayaan. Mereka memilih kalimat yang menusuk hati:
“Berkumpul Untuk Takut Akan Tuhan.”
Ya, kami sadar. Tanpa Tuhan, IPMADEI hanyalah sekumpulan mahasiswa yang sibuk dengan tugas. Tapi dengan Tuhan, IPMADEI adalah altar tempat kami belajar menjadi manusia Deiyai yang sejati.
Itulah mengapa tema kami tahun ini adalah: “Bersatu dalam Kristus, Bertumbuh Bersama, Melayani Sesama Anggota untuk Tetap Kokoh dalam IPMADEI.”
Dan subtema kami adalah janji: “Melalui HUT IPMADEI, Menjadikan Organisasi Sebagai Wadah Persaudaraan, Pembentukan Karakter, Pengembangan Potensi, dan Pelayanan Bagi Generasi Muda Kabupaten Deiyai di Tanah Rantau, Untuk Menciptakan Kemampuan Nalar Adaptif Terhadap Perubahan Zaman.” (1 Tesalonika 5:11)
Bukan Sekadar Tiup Lilin, Kita Akan Belajar
Di usia ke-15 ini, IPMADEI tidak ingin hanya makan kue. IPMADEI ingin memberi isi kepala. Maka digelarlah SEMINAR AKBAR bertema “Peran Mahasiswa dalam Organisasi dan Lingkungan Kampus dan Sosial” di Kontrakan Deiyai Tomohon, Pukul 12.00 s/d Selesai.
Tiga figur terbaik kami akan berdiri di depan:
Dipandu oleh Jefiri Adii sebagai Moderator,
Yulekon Pigome akan membakar semangat kita tentang Menjadi Pemimpin yang Ideal,
Yermias Bunai akan menampar kesadaran kita tentang Mengenal Esensi Mahasiswa,
dan Jonas Kayame akan menanamkan kembali rasa cinta tentang Membangun Rasa Memiliki Terhadap Organisasi.
Apa Kata Mereka Tentang Rumah Kita
Pendiri IPMADEI, Herman Mote, S.IP., dengan mata berkaca-kaca berkata: “Terima kasih kepada para pendiri. Karena organisasi adalah tempat belajar non-formal yang sesungguhnya. Di kampus kita dapat ijazah, di IPMADEI kita dapat kehidupan.”
Alumni Intelektual IPMADEI, Aleks Pigai, S.Pd., menegaskan: “Kalau kita hanya belajar di kampus, kita hanya tahu jurusan kita saja. Tapi di IPMADEI, kita belajar menjadi pemimpin. Kita belajar tentang hidup.”
Dan Ketua BPH IPMADEI, Yulius Adii, menutup dengan kalimat sederhana namun dalam: “Secara pribadi saya mengucapkan selamat hari ulang tahun IPMADEI yang ke-15 tahun. Umur IPMADEI masih muda, tapi mimpinya sudah sangat tua.”
Kini panggilan itu untukmu, anak Deiyai di manapun kau berada di Sulawesi Utara.
Datanglah. Tinggalkan sejenak laptop dan skripsimu. Mari kita pulang ke rumah kita. Mari kita jaga api itu agar tidak padam.
Karena 15 tahun IPMADEI adalah bukti, bahwa sejauh apapun kita pergi, Honai akan selalu ada di dalam dada kita.









