KORANPUBLIKA.CO.ID|Kabupaten Bandung,– Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Jawa Barat terus berkomitmen mendukung kemandirian ekonomi pesantren melalui program pemberdayaan berbasis potensi lahan. Salah satunya diwujudkan melalui peluncuran program penanaman bibit alpukat dan kopi di Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Kampung Kiarapayung, RT 02/RW 10, Desa Sukajadi, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Senin (12/10/2026).
Program ini memanfaatkan lahan pesantren seluas satu hektare yang berada di kawasan perbukitan dan dinilai memiliki potensi yang baik untuk pengembangan tanaman alpukat dan kopi.
Dalam program tersebut, BMH Jabar memberikan dukungan berupa bibit pohon alpukat dan bibit kopi untuk ditanam di lahan pesantren. Penanaman ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun sumber pendapatan produktif bagi pesantren sekaligus berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan melalui penghijauan.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Abdul Wakit, menyampaikan bahwa pemilihan tanaman alpukat dan kopi didasarkan pada pertimbangan ekonomi dan kemudahan pengelolaan.
“Alpukat dan kopi kami pilih karena memiliki pasar yang cukup baik, banyak diminati masyarakat, harga yang relatif stabil, serta pemasaran yang relatif mudah. Perawatannya juga cukup memungkinkan untuk dikelola oleh pesantren,” ungkap Abdul Wakit.
Ia berharap program ini dapat berkembang menjadi salah satu sumber kemandirian ekonomi pesantren. Ke depan, pemanfaatan lahan tidak hanya terbatas pada tanaman alpukat dan kopi, tetapi juga dapat diperluas dengan berbagai jenis tanaman produktif lainnya sesuai potensi lahan.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BMH Jawa Barat, Marsono, menyampaikan dukungannya terhadap pengembangan program kemandirian pesantren melalui sektor pertanian dan perkebunan.
Menurutnya, lahan pesantren yang cukup luas merupakan aset potensial yang dapat dikelola secara produktif untuk memperkuat kemandirian ekonomi lembaga pendidikan Islam.
“BMH sangat mendukung upaya pesantren dalam membangun kemandirian ekonomi melalui pemanfaatan lahan yang dimiliki. Penanaman pohon ini bukan hanya berorientasi pada hasil ekonomi, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Karena itu, BMH turut menyokong penyediaan bibit tanaman agar lahan pesantren dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan,” ungkap Marsono.
Dari sisi produktivitas, tanaman alpukat membutuhkan waktu untuk tumbuh hingga memasuki masa panen. Dalam kondisi yang mendukung dan dengan penggunaan bibit yang sesuai, alpukat dapat mulai berbuah dalam kisaran 1,5 hingga 3 tahun, bergantung pada jenis bibit, teknik budidaya, dan kondisi perawatan. Sementara itu, tanaman kopi akan dikembangkan secara bertahap sesuai karakteristik tanaman dan kondisi lahan.
Program ini diharapkan tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi dalam jangka panjang, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi para santri dalam mengenal pertanian produktif, pengelolaan lingkungan, serta pengembangan usaha berbasis potensi lokal.
Lebih jauh, penanaman alpukat dan kopi ini ditargetkan menjadi etalase program unggulan kemandirian pesantren. Dengan pengelolaan yang baik, kawasan tersebut berpotensi dikembangkan sebagai wisata edukasi pertanian dan perkebunan yang dapat dikunjungi masyarakat maupun lembaga pendidikan lainnya.
BMH Jabar berharap model pemberdayaan ini dapat direplikasi oleh pesantren-pesantren lain, sehingga pemanfaatan lahan produktif menjadi salah satu jalan untuk memperkuat kemandirian ekonomi pesantren, mendukung pendidikan santri, dan menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.















