Scroll ke Bawah Membaca Artikel
DaerahEkonomiNasionalNewsRagam

Cegah Isu SARA dan Jaga Kondusivitas, DTK Persada 212 Garut Gelar Dialog Multikultural Lintas Iman

518
×

Cegah Isu SARA dan Jaga Kondusivitas, DTK Persada 212 Garut Gelar Dialog Multikultural Lintas Iman

Sebarkan artikel ini
Pelaksanaan kegiatan Dialog Multikultural: Menegakkan Kemanusiaan dan Keluhuran Moral Lintas Iman. Acara tersebut berlangsung di Gedung Pendopo, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Selasa (13/8/2026).

KORANPUBLIKA.CO.ID|Garut,- Dewan Tahfidzi Kabupaten (DTK) Persaudaraan Alumni 212 (Persada 212) Garut menyelenggarakan kegiatan Dialog Multikultural: Menegakkan Kemanusiaan dan Keluhuran Moral Lintas Iman. Acara tersebut berlangsung di Gedung Pendopo, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Selasa (13/8/2026).

Kegiatan ini menghadirkan berbagai tokoh dari berbagai elemen masyarakat, lintas agama, dan jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut untuk memperkuat nilai-nilai toleransi, merawat keberagaman, serta mencegah polarisasi jelang momentum politik lokal.

Scroll ke Bawah Terus Membaca Artikel
Example 300x600
Advertorial

Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM) Kabupaten Garut, dr. Maskut Farid, menegaskan bahwa Pemkab Garut sangat berfokus pada pemeliharaan kerukunan dan keharmonisan warga. Menurutnya, pembangunan fisik tidak akan maksimal jika masyarakat tidak merasa aman dan harmonis.

“Dan memang Pemerintah Kabupaten Garut sangat konsen terhadap hal-hal yang menyangkut masalah kerukunan karena bagaimana pun kalau kita membangun dengan baik, tapi ketika masyarakatnya tidak harmonis, tidak ada toleransi maka hal itu juga kurang. Di samping kita membangun secara fisik juga membangun keamanan dan kenyamanan itu penting juga,” ucapnya.

Ia juga menambahkan bahwa sikap radikal dan cara-cara yang dibungkus kekerasan cenderung kontraproduktif. Dialog terbuka dinilai sebagai jalan yang jauh lebih konstruktif dan membawa kebaikan bagi kemajuan daerah.

“Sehingga diharapkan dengan adanya dialog seperti ini, ini cukup membawa hal yang kondusif yang baik untuk kita saling bersama-sama membangun dalam memberikan rasa aman, nyaman, kita bebas untuk mengusahakan kehidupan yang baik sehingga ada tercipta kehidupan masyarakat yang damai dan makmur ya,” lanjut dr. Maskut.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Garut, Hamzah Rukmana, menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini. Dalam penyampaiannya, Hamzah menekankan bahwa Kabupaten Garut sesungguhnya merupakan daerah yang sudah beradab dan memiliki landasan peradaban yang kuat, sehingga nilai-nilai tersebut wajib terus dipelihara melalui sinergi antara umat beragama, intern umat beragama, dan pemerintah.

Hamzah menjelaskan bahwa Kabupaten Garut dapat dikatakan sebagai episentrum kekayaan dan keragaman agama. Selain jumlah umat Islam dan tokoh-tokohnya yang luar biasa, Garut juga menjadi rumah bagi keberagaman lintas agama dan kepercayaan, seperti Katolik, Kristen, Konghucu, Buddha, hingga aliran kepercayaan Sunda Wiwitan.

“Sebagaimana kita ketahui bahwa Kabupaten Garut ini bisa dikatakan sebagai episentrum terkait dengan kekayaan dan keragaman agama,” ucapnya.

Oleh karena itu, pihak Kemenag bersama para tokoh lintas agama dan pemerintah berkomitmen memastikan hadirnya kerukunan yang berkesinambungan. Tidak hanya menjaga hubungan antarumat, tetapi juga memelihara tradisi, seni, dan budaya lokal agar tercipta harmoni dalam kebersamaan.

“Nah ini sudah barang tentu kita selaku tokoh semuanya tokoh yakin termasuk kami dari pemerintah ingin sama-sama memastikan terjadinya kerukunan memelihara kerukunan antar umat beragama kemudian termasuk juga menjaga budaya, termasuk juga menjaga tradisi, termasuk juga menjaga seni yang tadi ditampilkan,” lanjutnya.

Di tempat yang sama, Ketua Umum DTK Persada 212 Garut, Aam Moh. Jalaludin, menyampaikan beberapa poin penting terkait arah gerakan dan komitmen organisasi terhadap toleransi di Kabupaten Garut.

Ia juga mengajak seluruh kiai, ulama, romo, pendeta, biksu, rohaniawan, dan tokoh adat untuk menyatukan langkah dalam menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan menolak segala bentuk kampanye hitam maupun pembunuhan karakter berlatar belakang agama.

“Tugas kita sebagai tokoh lintas agama bukan menjadi alat politik praktis, tugas kita adalah penyejuk menjadi jangkar moral agar Garut tetap menjadi kota toleran, kota yang aman untuk semua anak-anak,” pungkasnya.

example 325×300