KORANPUBLIKA.CO.ID|Nabire, Papua Tengah,– Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua Tengah terus menggencarkan edukasi HIV/AIDS kepada generasi muda Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua,
Kegiatan sosialisasi yang digelar di Nabire ini diikuti puluhan pemuda KINGMI dari berbagai jemaat. Selain mendapatkan materi mendalam tentang bahaya HIV/AIDS, kegiatan ini juga diwarnai aksi nyata kepedulian dari Senior Pemuda KINGMI Meepago.
Ketua KPA Papua Tengah, Freny Anouw, S.IP, mengungkapkan bahwa kasus HIV/AIDS di Papua Tengah sudah menembus di Papua Tengah sebagai penyumbang tertinggi Jumlah Kasus virus 24.777 kasus.
“Angka ini naik karena semakin banyak anak muda yang sadar periksa. Tapi di sisi lain perilaku berisiko usia 14-25 tahun juga tinggi. Anak-anak jarang di rumah, keluar malam, miras, narkoba dan seks bebas,” ujar Freny.
Dalam materinya, Freny menekankan 3 poin penting:
1. Meluruskan Mitos:
HIV tidak menular lewat jabat tangan atau makan bersama. Penularan hanya melalui hubungan seksual berisiko, jarum suntik tidak steril, dan ibu ke anak.
2. Lawan Stigma:
Stigma adalah musuh terbesar. Banyak ODHIV takut berobat karena takut dikucilkan.
“Kita harus peduli, bukan menghakimi. Tugas gereja adalah merangkul, bukan membuang,” tegasnya.
3. Rutin Cek Kesehatan:
KPA mengajak pemuda berani tes HIV sukarela di Puskesmas dan RSUD.
Di akhir kegiatan, suasana haru terjadi. Seorang Kaka Senior Pemuda KINGMI Meepago yang tampil memberikan materi yang luar biasa, secara spontan menyalurkan bantuan 100 Sak Semen guna mendukung penyelesaian sisa pembangunan di lokasi yang akan digunakan untuk Retreat Akbar 5 Koordinator Tahun 2027.
Aksi tersebut mendapat apresiasi luar biasa dari seluruh peserta dan panitia.
“Hebat Kaka Senior! Materinya luar biasa memberkati kami, dan bantuannya sangat nyata. 100 sak semen ini sangat membantu percepatan pembangunan tempat Retreat Akbar 5 Koordinator tahun 2027. Ini teladan bahwa melayani tidak hanya dengan kata-kata, tapi dengan perbuatan,” ujar Panitia.
Panitia berharap bantuan ini menjadi motivasi bagi pemuda lainnya untuk bersama-sama bergotong royong menyelesaikan pembangunan, serta menjadi agen perubahan dalam melawan HIV/AIDS di tanah Papua.











