Scroll ke Bawah Membaca Artikel
DaerahEkonomiNasionalNewsRagam

Lelaki Yang Menjaga Alam dan Lingkungan Serta Harkat dan Martabat

1171
×

Lelaki Yang Menjaga Alam dan Lingkungan Serta Harkat dan Martabat

Sebarkan artikel ini
Sem Yeimo Mahasiswa aktif Universitas Cenderawasih UNCEN Jayapura Fakultas Hukum

KORANPUBLIKA.CO.ID|Holandia, Papua,- Di sebuah honai tua di pedalaman, seorang mama tua selalu menatap langit setiap tanggal 1 Desember. Di tangannya, ada selembar kain yang warnanya sudah mulai pudar. Di tengahnya ada sebuah bintang, Minggu. 11 Oktober 2026.

Anak cucunya bertanya, “Mama, kenapa kain itu tidak mama buang saja? Kenapa mama simpan terus, padahal gara-gara kain itu, bapa dulu ditangkap?”

Scroll ke Bawah Terus Membaca Artikel
Example 300x600
Advertorial

Mama itu tersenyum. Senyumnya seperti senja yang menahan tangis.

“Anakku, ini bukan sekadar kain,” jawabnya pelan. “Ini nafas.”

Dulu, suaminya pernah berkata hal yang sama. Lelaki itu bukan pemberontak. Dia hanya seorang guru kampung. Dia mengajar anak-anak membaca, menanam hipere, dan berdoa. Suatu sore, dia naikkan kain itu di depan sekolahnya.

Bukan untuk melawan siapa-siapa. Dia hanya ingin murid-muridnya tahu, bahwa mereka punya langitnya sendiri. Punya tanahnya sendiri. Punya sejarahnya sendiri.

Tapi esoknya, datang orang-orang berseragam. Mereka menurunkan kain itu, menginjaknya, lalu membawa suaminya pergi. Sejak itu, nama kain itu menjadi haram untuk disebut di kampung itu.

“Tapi kenapa mereka begitu benci, Ma?” tanya cucunya lagi.

Mama itu menatap bintang di kain itu. Bintang yang menyala sendirian di pagi buta. Kejora.

“Karena mereka takut,” kata mama. “Mereka takut pada cahaya kecil yang tidak bisa mereka padamkan. Mereka bisa jual gunung kita, mereka bisa jual hutan kita di pasar modal yang jauh di sana. Mereka bisa beli suara-suara besar, mereka bisa buat banyak Yudas di antara kita. Tapi satu hal yang tidak bisa mereka jual: hak kita untuk berdiri di tanah kita sendiri.”

“Apa salah bintang ini, Ma?”

Mama menggeleng. “Tidak ada salahnya, anakku. Salahnya hanya satu: dia terlalu jujur menunjukkan siapa kita. Dia mengingatkan kita bahwa kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang diberkati. Nafasnya tidak akan hilang meski diludahi. Wajahnya tidak akan pudar meski dimaki.”

Malam itu angin gunung bertiup kencang. Mama tua itu melipat kembali kain itu dengan hati-hati, seperti melipat doa.

“Simpan baik-baik,” bisiknya pada cucunya. “Suatu hari nanti, ketika dunia sudah lelah berbohong, mereka semua akan kembali. Bahkan mereka yang dulu membencinya, akan datang meminta maaf dan menghormatinya. Karena tanah ini tidak pernah lupa siapa pemiliknya.”

Di luar honai, Bintang Kejora masih berdiri di langit. Sendirian. Terang. Tidak pernah padam.

Opini oleh Sem Yeimo

Mahasiswa aktif Universitas Cenderawasih Jayapura Fakultas Hukum

example 325×300