Scroll ke Bawah Membaca Artikel
DaerahEkonomiNasionalNewsRagam

Pasanggiri Mencenges Se-Priangan Timur Guncang Tasikmalaya, Wawalkot Diky: Jangan Biarkan Bahasa Sunda Mati

428
×

Pasanggiri Mencenges Se-Priangan Timur Guncang Tasikmalaya, Wawalkot Diky: Jangan Biarkan Bahasa Sunda Mati

Sebarkan artikel ini
Wakil Walikota Tasikmalaya, Rd Diky Candranegara, membuka kegiatan Pasanggiri Mencenges Se-Priangan Timur, Rabu(14/10/2026). (Foto:Krist)

KORANPUBLIKA.CO.ID|Tasikmalaya,– Semangat ngamumule budaya Sunda kembali membara di Kota Tasikmalaya. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Mulok Wajib Bahasa Sunda SMA Kota Tasikmalaya sukses menggelar Pasanggiri Méncéngés Vol. 02 tingkat SMA/SMK/MA se-Priangan Timur.

Acara yang penuh dengan nuansa kesundaan ini di gelar di Universitas Perjuangan dan mendapat apresiasi tinggi dari Wakil Walikota Tasikmalaya, Rd Diky Candranegara, Rabu(14/10/2026)

Scroll ke Bawah Terus Membaca Artikel
Example 300x600
Advertorial

Rd Diky Candranegara mengungkapkan bahwa ini merupakan kegiatan luar biasa kedua yang terus menerus digelar di Kota Tasikmalaya dalam upaya melestarikan budaya Sunda.

“Ini udah 2 kegiatan yang terus menerus, ada dua kegiatan yang luar biasa. Pertama Haul Adipati Sukapura, mulai dari adipati pertama sampai ke enam belas.

Jujur antusias masyarakat masih belum waah, tapi saya tetap angkat topi salut kepada para pejuang karena sudah berikhtiar untuk bisa menyatukan. Dan ini menjadi awalan ke depan supaya kesundaan makin hari makin kuat,” ujar Diky di hadapan peserta dan guru.

Menurutnya, dilanjutkannya acara Méncéngés hari ini menjadi bukti nyata bahwa generasi muda masih peduli terhadap bahasa dan sastra Sunda. Kegiatan ini diikuti dari berbagai wilayah di Priangan Timur, khusus untuk anak-anak SMA.

“Di mana dari berbagai wilayah anak-anak masih, di anak-anak khusus SMA berarti diajarkan atau diperkenalkan kesenian sajak Sunda, sastra Sunda dan yang lainnya yang berkaitan dengan Bahasa Sunda, supaya apa, Supaya tidak mati ke depannya dan ini yang paling luar biasa,” tegasnya.

Dengan nada introspeksi, Diky mengaku dirinya sendiri masih banyak kesalahan dalam berbahasa Sunda, sehingga ia sangat salut kepada panitia yang tetap konsisten menyelenggarakan kegiatan ini.

“Yah saya gak mau bertanya kepada wartawan tapi tanya ke diri sendiri, karena yang namanya kesundaan saya sendiri banyak kesalahan segala rupanya dan saya salut kepada panitia menyelenggarakan kegiatan ini. Yang paling penting jangan putus asa dan berkecil hati,” ungkapnya.

Ia juga memberikan motivasi bahwa tujuan besar berawal dari hal kecil. Diky mencontohkan keberhasilan buku Calakan di tingkat SD yang menjadi Iqro-nya bahasa Sunda.

“InsyaAllah sampai akhirnya kita mempunyai tujuan utama biar kecil tapi bisa besar karena kumpulan yang besar itu berawal dari kecil. Kalau bicara keseluruhan dan kalau di tingkat SD ini sudah ada buku Calakan itu iqro nya bahasa Sunda dan buku Calakan ini buku dasar untuk membaca bahasa Sunda kepada anak-anak,” katanya.

“Kita yang dewasa tidak bisa menulis dan saya jujur mereka bisa menulis bahasa Sunda asli dan mereka juga tidak di support oleh APBD,” tambahnya.

Diky menegaskan, sebagai wakil walikota ia memang tidak memiliki kewenangan membuat program yang menggunakan APBD, namun ia bisa melakukan gerakan moral tanpa APBD.

“Karena saya sebagai wakil tidak bisa membuat program apapun dan teman-teman media juga sudah tahu dan di undang-undang juga saya tidak mempunyai kewenangan dengan membuat program, konsep, sebuah kebijakan tentang sesuatu tapi saya bisa melakukan sesuatu yang tanpa harus menggunakan APBD dengan contoh bahwa di Tasik sudah tulisan Calakan pakai APBD gak juga,” pungkasnya.

Ia berharap kurikulum bahasa Sunda harus ada Muatan Lokal (Mulok) wajib, selain untuk ngamumule budaya, juga bisa berdampak ekonomi bagi para guru bahasa Sunda.

example 325×300