Scroll ke Bawah Membaca Artikel
DaerahNasionalNewsRagam

Menhan Sjafrie Tekankan Peran PWI dalam Menjaga Nasionalisme di Tengah Perang Opini

667
×

Menhan Sjafrie Tekankan Peran PWI dalam Menjaga Nasionalisme di Tengah Perang Opini

Sebarkan artikel ini
Acara Retret PWI yang berlangsung di Diklat Bela Negara, Cibodas, Bogor, dan dihadiri oleh ratusan wartawan dari berbagai daerah di Indonesia.

KORANPUBLIKA.CO.ID|Bogor,- Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, menegaskan bahwa Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam memperkuat nasionalisme dan wawasan kebangsaan. Hal ini disampaikan dalam acara Retret PWI yang berlangsung di Diklat Bela Negara, Cibodas, Bogor, dan dihadiri oleh ratusan wartawan dari berbagai daerah di Indonesia, Sabtu(31/1/2026).

Dalam paparannya, Sjafrie menekankan bahwa tantangan bangsa saat ini tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi dan keamanan fisik, tetapi juga meluas ke ranah opini publik dan psikologis. Menurutnya, perang opini yang masif dapat menggerus kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara apabila tidak diimbangi dengan pemberitaan yang objektif dan bertanggung jawab.

Scroll ke Bawah Terus Membaca Artikel
Example 300x600
Advertorial

“Indonesia adalah negara besar dengan kekayaan yang melimpah. Namun, dalam era keterbukaan informasi, kita menghadapi perang opini yang seringkali membuat niat baik dipersepsikan secara negatif. Di sinilah peran pers, khususnya PWI, menjadi sangat penting untuk memastikan publik memahami bahwa kerja pemerintah dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan integritas,” ujar Sjafrie di hadapan peserta.

Sjafrie menilai media memiliki fungsi vital sebagai penjamin kepercayaan publik. Ia menekankan bahwa wartawan harus mampu menjaga keseimbangan antara kebebasan pers dan tanggung jawab sosial. Investigasi jurnalistik tetap diperlukan, namun harus diarahkan untuk mendukung penegakan hukum yang adil dan berimbang.

“Investigasi yang dilakukan pers harus menjadi bagian dari upaya memperkuat hukum, bukan justru memperkeruh suasana atau melemahkan institusi negara. Wartawan harus tetap kritis, tetapi juga bijak dalam menyalurkan informasi kepada masyarakat,” tambahnya.

Dalam analoginya, Sjafrie menggambarkan Indonesia sebagai kapal besar yang sedang berlayar di tengah gelombang global. Kapal tersebut hanya bisa selamat jika seluruh awaknya bersatu dan bekerja sama, termasuk kalangan pers nasional. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas generasi, di mana wartawan senior dan muda harus saling melengkapi dalam menjaga arah perjalanan bangsa.

“Persatuan adalah kunci. Tanpa kebersamaan, kapal besar bernama Indonesia akan sulit bertahan menghadapi badai global. Wartawan sebagai bagian dari elemen bangsa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga arah perjalanan ini,” tegasnya.

Selain menyoroti peran pers dalam konteks nasional, Sjafrie juga menegaskan komitmen Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina dan peran aktif dalam menciptakan perdamaian dunia. Menurutnya, sikap konsisten Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina adalah bagian dari tanggung jawab moral bangsa yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

“Indonesia tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk perdamaian dunia. Dukungan terhadap Palestina adalah wujud nyata komitmen kita dalam menegakkan keadilan internasional,” ujarnya.

Menutup paparannya, Sjafrie mengingatkan para wartawan agar terus menjaga integritas, objektivitas, dan profesionalisme dalam setiap karya jurnalistik. Ia menekankan bahwa pers bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga penjaga moral bangsa.

“Wartawan harus menjadi teladan dalam menyampaikan kebenaran. Jangan sampai pers terjebak dalam arus opini yang menyesatkan. PWI harus berdiri tegak sebagai penjuru utama dalam memperkuat nasionalisme dan menjaga keutuhan bangsa,” pungkasnya.

example 325×300