KORANPUBLIKA.CO.ID|Sorong, Papua Barat Daya,- Mencari jalan keluar agar hubungan kakak dan adik tetap akur di sekitar kompleks Meuwodide Km. 11,5 Kota Sorong dapat dilakukan dengan perhatian khusus yang adil, menghindari pembandingan, serta mengajarkan kompromi yang efektif. Sore istimewa pada Rabu, 4 Maret 2026 menjadi momentum untuk menekankan hal ini.
Prinsip Keharmonisan
– Adil, bukan sama rata. Berikan perhatian atau waktu khusus (one-on-one time) untuk masing-masing anak generasi muda Paniai sesuai kebutuhan mereka, bukan sekadar membagi waktu sama rata.
– Hindari membandingkan. Jangan pernah membandingkan kemampuan, perilaku, atau prestasi satu sama lain, terutama di kalangan organisasi mahasiswa, agar tidak menimbulkan sinisme.
– Terapkan aturan yang sama. Pastikan arah langkah belajar konsisten. Ibarat pohon cemara, dari akar hingga daun, simbol pembelajaran harus berlaku tanpa membedakan usia maupun batas waktu.
Agus Yatipai, alumni Universitas Satya Wiyata Mandala Nabire (Jurusan Fisip, Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis, lulusan 2024/2025), menekankan pentingnya mencari jalan tengah bersama. “Organisasi mahasiswa harus berani memutuskan solusi di tempat perkumpulan, agar jalan keluar bisa ditemukan,” ujarnya.
Senada dengan itu, senior IPMAPAN Jeri Degei menambahkan bahwa aturan yang sama harus diterapkan demi kesetaraan dalam belajar.
Pertengkaran antar saudara adalah hal wajar dalam proses tumbuh kembang. Namun, perlu diawasi agar tidak merugikan secara fisik maupun mental, terutama dalam konteks organisasi mahasiswa.
Organisasi mahasiswa berperan sebagai wadah untuk belajar mendengarkan tanpa menghakimi. Senior dan junior diharapkan saling menghargai privasi serta batasan masing-masing, sehingga tercipta hubungan yang harmonis.
Opini oleh Jeri P. Degei












