KORANP{UBLIKA.CO.ID|Kepulauan Riau,- Dalam perjalanan hidup manusia, ada tiga hal yang sering tampak sederhana tetapi sesungguhnya sangat menentukan arah kehidupan seseorang, yaitu bagaimana manusia mendengar, berucap, dan melangkah. Ketiganya adalah fondasi utama dalam membangun kehidupan yang bermakna. Seseorang yang mampu mendengar dengan hati yang jernih, berucap dengan kata yang bijaksana, serta melangkah dengan keberanian yang bertanggung jawab, akan menemukan arah hidup yang lebih terang dan penuh makna, Rabu(11/3/2026).
Mendengar bukan sekadar aktivitas telinga menangkap suara. Mendengar adalah kemampuan hati dalam memahami makna. Banyak orang mampu mendengar, tetapi tidak semua mampu menangkap hikmah di balik apa yang didengarnya. Sering kali seseorang lebih cepat menilai daripada memahami. Padahal, dalam setiap nasihat, pengalaman, dan peristiwa kehidupan, terdapat pelajaran berharga yang dapat menjadi bekal bagi perjalanan hidup seseorang.
Setelah mendengar, manusia akan sampai pada tahap berucap. Ucapan adalah cermin isi hati dan kedewasaan akal. Kata-kata yang keluar dari mulut seseorang dapat menjadi penyejuk bagi jiwa yang gundah, tetapi juga dapat menjadi luka yang mendalam bagi hati yang lembut. Oleh karena itu, ucapan harus lahir dari kebijaksanaan dan kepekaan. Kata yang baik bukan hanya indah didengar, tetapi juga menguatkan, menyatukan, dan menumbuhkan harapan.
Dalam kebijaksanaan budaya Melayu, kata sering dipandang sebagai marwah diri. Orang yang berilmu akan menjaga lisannya, karena ia memahami bahwa setiap kata memiliki konsekuensi moral. Kata yang lahir dari hati yang bersih akan membawa kedamaian, sementara kata yang keluar tanpa pertimbangan sering menimbulkan penyesalan.
Namun, kehidupan tidak berhenti pada mendengar dan berucap. Kehidupan menuntut manusia untuk melangkah. Langkah adalah bentuk nyata dari keyakinan dan keberanian. Banyak orang pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi tidak semua berani mengambil langkah menuju kebaikan tersebut. Padahal, langkah kecil yang dilakukan dengan niat tulus sering kali lebih berarti daripada seribu rencana yang hanya tinggal dalam angan.
Dalam memahami perjalanan hidup ini, kita dapat belajar dari lima jari manusia. Setiap jari memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda, tetapi semuanya bekerja sama untuk menciptakan kekuatan dan keseimbangan.
Ibu jari adalah jari yang paling kuat dan menentukan arah genggaman. Ia melambangkan keteguhan prinsip dalam melangkah. Tanpa ibu jari, tangan akan kehilangan kekuatannya. Demikian pula dalam kehidupan, manusia membutuhkan prinsip yang kokoh agar setiap langkah yang diambil tidak mudah goyah oleh godaan atau tekanan keadaan.
Jari telunjuk sering digunakan untuk menunjuk arah dan memberi petunjuk. Ia melambangkan fungsi nasihat dan petunjuk dalam kehidupan. Jari ini mengingatkan bahwa manusia harus mampu menunjukkan jalan yang benar, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Namun telunjuk juga mengajarkan agar manusia berhati-hati dalam menilai, karena terlalu mudah menunjuk kesalahan orang lain sering kali membuat seseorang lupa memperbaiki dirinya sendiri.
Jari tengah adalah jari yang paling tinggi di antara yang lain. Ia melambangkan keadilan dan keseimbangan. Dalam kehidupan, manusia dituntut untuk mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak berlebihan dalam bersikap, dan tidak pula merendahkan orang lain. Ketinggian jari tengah mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang bukan diukur dari kesombongan, tetapi dari kemampuannya menjaga keseimbangan antara akal, hati, dan tindakan.
Jari manis dikenal sebagai jari yang sering menjadi tempat cincin pernikahan. Ia melambangkan kesetiaan dan komitmen. Dalam kehidupan, manusia membutuhkan kesetiaan terhadap nilai-nilai kebaikan, kesetiaan terhadap amanah, dan kesetiaan terhadap janji yang telah diucapkan. Tanpa komitmen, langkah manusia akan mudah goyah oleh perubahan zaman.
Sementara itu, jari kelingking adalah jari yang paling kecil. Namun jangan salah, keberadaannya sangat penting untuk menjaga keseimbangan tangan. Ia melambangkan kerendahan hati. Dalam kehidupan, sekecil apa pun peran seseorang tetap memiliki nilai. Kerendahan hati membuat manusia mampu menghargai orang lain dan menyadari bahwa tidak ada manusia yang dapat berdiri sendiri tanpa bantuan sesamanya.
Ketika lima jari itu bersatu, tangan manusia menjadi kuat untuk bekerja, menolong, dan membangun kehidupan. Demikian pula dalam kehidupan manusia: ketika prinsip, nasihat, keseimbangan, kesetiaan, dan kerendahan hati bersatu dalam diri seseorang, maka ia akan memiliki kekuatan moral untuk menghadapi berbagai tantangan hidup.
Akhirnya, kehidupan mengajarkan satu pelajaran penting: dengarlah dengan hati yang bersih, ucapkanlah kata yang menenangkan, dan melangkahlah dengan keberanian yang penuh tanggung jawab. Seperti lima jari yang saling melengkapi, demikian pula manusia harus menyeimbangkan akal, hati, dan tindakan agar perjalanan hidupnya membawa manfaat bagi sesama.
Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya dikenang dari apa yang ia miliki, tetapi dari apa yang ia dengar dengan kebijaksanaan, apa yang ia ucapkan dengan kelembutan, dan apa yang ia lakukan dengan keberanian dalam setiap langkah kehidupannya.
Opini Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain (AFEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau












