Scroll ke Bawah Membaca Artikel
DaerahNasional

Sambut Anniversary ke-8, de Braga by Artotel Bandung Hadirkan Pameran Seni “Studio di Jam 34:00 “

615
×

Sambut Anniversary ke-8, de Braga by Artotel Bandung Hadirkan Pameran Seni “Studio di Jam 34:00 “

Sebarkan artikel ini
de Braga Bandung by ARTOTEL resmi membuka pameran seni rupa bertajuk "Studio di Jam 3.30" pada Sabtu (25/7/2026).

KORANPUBLIKA.CO.ID|Bandung,- de Braga Bandung by ARTOTEL resmi membuka pameran seni rupa bertajuk “Studio di Jam 34:00″ pada Sabtu (25/7/2026). Menggandeng kolektif seniman muda STUT, pameran ini dijadwalkan berlangsung selama satu bulan penuh hingga 25 Agustus 2026 mendatang.

​General Manager de Braga by Artotel Bandung, Tri Wenda Agus Setyabudi, menyampaikan bahwa pameran ini digelar sebagai wadah kolaborasi antara pihak hotel dan para seniman lokal Bandung demi mendorong keberhasilan karya-karya mereka.

Scroll ke Bawah Terus Membaca Artikel
Example 300x600
Advertorial

​”Harapannya dengan event ini seniman-seniman Bandung bisa berkolaborasi dengan de Braga Bandung dan mensukseskan hasil karya mereka,” ujar Tri Wenda di sela-sela pembukaan pameran.

​Ia menambahkan, pameran seni ini juga menjadi bagian dari rangkaian agenda menuju peringatan hari jadi de Braga Bandung yang ke-8. Pihak hotel berkomitmen untuk terus menggelar berbagai kegiatan inklusif yang mencakup bidang seni, sport tourism, hingga aksi kepedulian lingkungan.

​”Ke depannya pasti kita juga akan menggelar event-event seperti ini. Salah satunya di tanggal 28 Juli ini, dalam rangkaian road trip anniversary de Braga Bandung yang ke-8, kita akan bekerja sama dengan Tahura untuk penanaman bibit pohon di sana,” tambahnya.

​Sementara itu, Clarissa, yang bertindak sebagai exhibition producer pameran “Studio di Jam 34:00″, menjelaskan bahwa pameran ini berawal dari inisiatif kolektif STUT, sebuah grup seni yang bermula dari ruang komunitas kecil hingga berkembang menjadi gerakan pameran mandiri.

​Menurut Clarissa, menghadirkan ruang pamer di tempat seperti hotel memberikan aksesibilitas yang lebih luas, baik bagi seniman maupun publik secara umum.

​”Harapan dari acara ini bisa memberikan peluang-peluang baru untuk seniman-seniman muda. Kalau di white cube atau galeri komersial biasanya untuk seniman yang sudah punya nama. Kalau ini lebih gampang dijangkau dan lebih mudah diterima orang awam. Selalu ada ruang baru untuk seniman baru dan orang yang mau belajar seni,” terang Clarissa, yang telah mendalami tata kelola pameran seni sejak 2021.

​Salah satu seniman yang terlibat dalam pameran ini, Mutia Afifah, memamerkan empat karya seni lukis berukuran kecil yang secara khusus merespons tema waktu dan self-care. ​Melalui karyanya, Mutia mengajak pengunjung untuk memperlambat ritme, bersikap lebih mindful, serta memberikan waktu bagi diri sendiri di tengah kesibukan sehari-hari.

​”Karya saya bertema tentang self-care, bagaimana kita memberikan ruang pada diri sendiri. Karena pameran ini merespons waktu, saya melihat waktu sebagai sesuatu yang harus dilihat secara perlahan dan detail. Saya berharap audiens bisa lebih fokus melihat detail karya dan menjadi lebih aware dengan sekitarnya,” tutur Mutia.

​Ia pun berharap pameran ini dapat terus berlanjut dan menjadi pematik lahirnya ruang-ruang apresiasi seni yang lebih besar di masa mendatang.

example 325×300