KORANPUBLIKA.CO.ID|Pangandaran,- Jaringan Masyarakat Tani (JAMTANI) meresmikan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Climate Learning Center (CLC) di Kabupaten Pangandaran, Jumat, 16 Oktober 2026.
Kehadiran pusat pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan petani dalam menghadapi perubahan iklim sekaligus mendorong ketahanan pangan berbasis potensi lokal.
Peresmian yang berlokasi di Dusun Kamurang RT 003 RW 011, Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia.
Kegiatan ini sekaligus menjadi puncak rangkaian Rapat Umum Anggota (RUA) IX Aliansi Organis Indonesia (AOI) dan program Farmer Goes to Campus yang telah berlangsung sejak 12 Oktober 2026.
Direktur JAMTANI, Kustiwa Adinata, mengatakan perubahan iklim bukan lagi sekadar persoalan global, melainkan tantangan nyata yang dihadapi petani dalam menjalankan usaha pertanian sehari-hari.
Menurut dia, anomali iklim telah memicu perubahan pola cuaca, peningkatan serangan hama, penurunan produktivitas, hingga risiko gagal panen. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap keberlangsungan usaha tani dan ketahanan pangan masyarakat.
“Krisis iklim bukan lagi sekadar isu global, melainkan kenyataan pahit yang dihadapi petani kita di ladang setiap hari,” kata Kustiwa.
Melalui P4S Climate Learning Center, JAMTANI berupaya membekali petani dengan pengetahuan dan keterampilan mitigasi serta adaptasi perubahan iklim. Upaya tersebut dilakukan melalui penerapan pertanian ekologis yang lebih selaras dengan alam.
Pusat pelatihan ini dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung pembelajaran, di antaranya ruang kelas interaktif, lahan percontohan atau demplot pertanian cerdas iklim, serta unit produksi pupuk mandiri.
Selain menyasar petani, P4S CLC juga membuka peluang pelatihan dan pemagangan bagi siswa sekolah serta mahasiswa. JAMTANI turut menyiapkan paket edukasi pertanian yang dapat dipadukan dengan kegiatan wisata di Pangandaran.
Konsep tersebut diharapkan mampu mempertemukan sektor pertanian dan pariwisata melalui kegiatan edukasi yang mengenalkan praktik pertanian ekologis kepada masyarakat maupun wisatawan.
Keberadaan P4S CLC juga diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara inovasi akademis dari perguruan tinggi dan kearifan lokal petani. Langkah ini sejalan dengan hasil konsolidasi nasional dalam RUA IX AOI yang menekankan pentingnya kolaborasi multipihak untuk memperluas penerapan pertanian organik yang tangguh menghadapi perubahan iklim.
Kustiwa menilai peringatan Hari Pangan Sedunia harus menjadi momentum untuk mendorong perubahan sistem pangan menuju praktik yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Hari Pangan Sedunia tahun ini adalah momentum bagi kita untuk berhenti bergantung pada sistem pangan konvensional yang merusak lingkungan. P4S ini adalah langkah nyata JAMTANI untuk membangun kedaulatan pangan dimulai dari kita para petani yang peduli,” ujarnya.
Selain persoalan perubahan iklim, Kustiwa turut menyoroti penyerapan produk pertanian lokal oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Republik Indonesia.
Menurut dia, program MBG memiliki tujuan positif, terutama dalam membuka akses pasar bagi produk-produk lokal yang dihasilkan petani di tingkat desa dan kecamatan. Program tersebut semestinya dapat menjadi salah satu offtaker atau pembeli hasil produksi petani sekaligus memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Namun, Kustiwa mengaku kecewa karena dalam pelaksanaannya masih banyak produk petani lokal yang belum terserap oleh dapur-dapur MBG.
“Terus terang, kami sungguh kecewa. Karena faktanya banyak produk petani yang justru tidak diserap oleh MBG,” katanya.
Ia mencontohkan produksi telur bebek yang mencapai ribuan butir setiap hari. Meski demikian, menurut dia, produk tersebut masih jarang ditemukan dalam menu makanan yang disajikan kepada anak-anak melalui program MBG.
Kondisi serupa, lanjutnya, juga terjadi pada produk sayuran dan buah-buahan yang dihasilkan petani lokal. Kustiwa menilai kondisi tersebut menjadi ironi karena program yang diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat seharusnya dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi petani dan produsen pangan lokal.
“Jadi dilema, yang tujuan awalnya baik, positif dan memberikan manfaat buat masyarakat, tapi realitasnya tidak sesuai ekspektasi. Kalau bicara sikap, ya kami terus terang saja kecewa. Petani atau masyarakat lokal lainnya tidak memiliki akses terhadap suplai produk yang diproduksi masyarakat lokal untuk dapur-dapur MBG,” ujarnya.
Ia berharap kehadiran P4S Climate Learning Center dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat pertanian berkelanjutan sekaligus meningkatkan posisi petani dalam rantai pasok pangan.
Peluang tersebut kata Kustiwa, perlu diikuti dengan upaya membangun hubungan yang lebih kuat antara petani sebagai produsen dan pelaku usaha pariwisata, khususnya hotel dan restoran.
“Kami menyoroti bahwa pertumbuhan usaha perhotelan di Pangandaran perlu diimbangi dengan peningkatan perhatian terhadap penggunaan bahan pangan sehat dan produk pertanian organik dari petani lokal,” ungkapnya.
Padahal, JAMTANI bersama para petani telah mengembangkan berbagai produk pertanian yang mengedepankan prinsip organik, rendah emisi, dan ramah iklim. Tantangan berikutnya adalah membangun rantai pasok yang mampu menghubungkan produk-produk tersebut dengan kebutuhan pasar, termasuk sektor perhotelan dan usaha kuliner.
“Dengan keindahan alam dan potensi pariwisata Pangandaran, ke depan peluang pengembangan pasar produk pertanian organik sangat terbuka. Bagaimana kita memanfaatkan momentum ini agar hasil pertanian organik dapat sampai ke tangan konsumen, baik wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Pangandaran,” ujar Kustiwa.
Menurutnya, sinergi antara petani, pemerintah daerah, dan pelaku usaha pariwisata diperlukan agar pertanian organik tidak hanya berkembang di tingkat produksi, tetapi juga memiliki akses pasar yang berkelanjutan.
Dukungan terhadap pengembangan pertanian organik juga disampaikan oleh Rian Darmawan, Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran.
Rian menyatakan bahwa pihaknya mendukung keterlibatan JAMTANI dalam gerakan AOI serta berbagai kegiatan yang mendorong pengembangan pertanian organik di Pangandaran.
“Kami sangat mendukung kehadiran AOI di Pangandaran dan keterlibatan JAMTANI di dalamnya. Kami juga mendukung kegiatan para petani organik,” kata Rian.
Ia menilai pengembangan pertanian organik penting untuk mendorong praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan, terutama di tengah penggunaan bahan kimia pertanian yang perlu dikelola secara bijak agar tidak berdampak buruk terhadap kualitas tanah.
Terkait dukungan kebijakan, Rian menjelaskan bahwa pembentukan peraturan daerah membutuhkan proses dan waktu. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Pangandaran melalui Dinas Pertanian akan mendorong upaya penyusunan regulasi yang dapat mendukung pengembangan pertanian organik di daerah.
“Kami dari Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran akan mendorong dan mencoba menyusun peraturan bupati terkait pertanian organik,” ujarnya.
Upaya tersebut diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan pertanian organik yang lebih terarah, sekaligus memperkuat peran petani dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan meningkatkan kualitas hasil pertanian.









