KORANPUBLIKA.CO.ID|Cimahi,– Kepadatan arus kendaraan di kawasan Simpang Empat Citeureup, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, kembali menjadi sorotan. Persimpangan yang menghubungkan sejumlah ruas jalan utama ini kerap mengalami kemacetan, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja.
Pantauan di lapangan menunjukkan, pagi hari dipenuhi kendaraan masyarakat yang menuju kantor maupun sekolah. Sementara sore hari, volume kendaraan dari arah Kota Cimahi dan sekitarnya bertemu di titik simpang tersebut, sehingga antrean panjang tak terhindarkan.
Selain tingginya jumlah kendaraan, perilaku pengguna jalan yang kurang tertib memperburuk keadaan. Kendaraan umum yang berhenti sembarangan serta pengendara yang saling berebut jalur membuat arus lalu lintas semakin tersendat dan berisiko menimbulkan kecelakaan.
“Kalau sore bisa macet cukup lama, apalagi kalau tidak ada petugas yang mengatur,” ungkap seorang warga yang rutin melintas di kawasan itu.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Kota Cimahi, Endang, menyebut pihaknya telah melakukan sejumlah langkah, seperti pemasangan lampu lalu lintas dan penempatan petugas di jam sibuk. Namun, ia menegaskan perlunya evaluasi lebih menyeluruh untuk penataan jangka panjang.
Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah pembangunan bundaran (roundabout). Menurut Endang, skema ini dapat mengurangi konflik pergerakan kendaraan dari berbagai arah sekaligus. “Bundaran bisa mengatur arus secara lebih alami tanpa bergantung penuh pada lampu lalu lintas,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).
Data Dishub menunjukkan, volume kendaraan di simpang tersebut saat jam puncak mencapai 2.000–2.500 unit per jam, dengan dominasi sepeda motor sekitar 70 persen. Tingkat pelayanan jalan (Level of Service/LOS) berada di kisaran D hingga E, menandakan arus lalu lintas mendekati tidak stabil.
Jika bundaran diterapkan, jumlah titik konflik diperkirakan turun dari sembilan menjadi sekitar empat, sehingga potensi kecelakaan dapat ditekan. Selain itu, waktu tunggu kendaraan juga bisa berkurang dibandingkan simpang bersinyal pada kondisi tertentu.
Meski demikian, Endang menekankan bahwa efektivitas bundaran bergantung pada ketersediaan ruang, terutama untuk kendaraan besar. Dukungan lain seperti pelebaran jalan, penertiban parkir liar, serta pengaturan naik-turun penumpang angkutan umum tetap diperlukan.
“Dengan penataan berbasis data dan perencanaan teknis yang matang, kami berharap arus lalu lintas di Simpang Citeureup bisa lebih lancar, tertib, dan aman bagi semua pengguna jalan,” pungkasnya.















