Scroll ke Bawah Membaca Artikel
DaerahEkonomiNasionalNewsRagam

Bangsa Ini Butuh Pejuang yang Benar-Benar Taruh Nyawa

1328
×

Bangsa Ini Butuh Pejuang yang Benar-Benar Taruh Nyawa

Sebarkan artikel ini
Sem Yeimo, Mahasiswa Hukum Universitas Cenderawasih

KORANPUBLIKA.CO.ID|Holandia,– Papua Bangsa ini sakit tiap detik. Terluka tiap waktu Hingga tiap tahun, bangsa ini terus menangis seakan tiada lagi kebahagiaan yang tersisa, Senin 24 Agustus 2026.

Lalu siapa yang memberi air agar hausnya berhenti? Siapa yang memberi makan agar laparnya berhenti? Siapa yang peduli dan mengobatinya dengan perjuangan yang sejatinya adalah kebenaran?

Scroll ke Bawah Terus Membaca Artikel
Example 300x600
Advertorial

Bangsa ini butuh dipulihkan. Dibebaskan. Dikembalikan dalam keadaan murni: tanpa disakiti, tanpa dilukai, tanpa ditangisi, tanpa diperdagangkan, dan tanpa terus mengeluh.

Jangan jadikan bangsa ini tempat berdusta dan berdosa. Jangan lempar ia ke jurang yang sama. Bebaskan ia untuk berdiri sendiri. Buatlah ia bahagia dengan kemerdekaan yang sesungguhnya, bukan dengan senyum paksa di tengah luka, bukan dengan semangat palsu di tengah kelemahan, bukan dengan berdiri tegak padahal masih lumpuh.

Seruan Untuk Pejuang Sejati

Kita perlu pejuang yang benar-benar berani taruh nyawa di lapangan. Bukan pejuang yang hanya bersuara di media sosial sementara lapangan perjuangan masih kosong.

Jangan mengaku pejuang jika nurani belum menerima panggilan itu. Jangan bersumpah untuk bangsa ini jika belum siap membayar harganya.

Karena sejatinya, bangsa ini bukan mimbar untuk diuji dengan pujian sesaat. Bangsa ini bukan dinding untuk cari perhatian. Bangsa ini bukan barang dagangan di pasar kekuasaan.

Bangsa ini harus berdiri sendiri. Bebas sendiri. Tanpa campur tangan imperialisme dan traktat asing. Bangsa ini tidak perlu diperkaya oleh pengorbanan, tidak perlu dihiasi dengan keputusan-keputusan yang mengorbankan nyawa tanpa arah.

Bijaksana Dalam Perjuangan

Yang dibutuhkan adalah pejuang yang bijaksana, rakyat yang bijaksana, pemimpin yang bijaksana. Bijaksana untuk membedakan mana kawan, mana lawan. Mana kebenaran, mana ketidakbenaran.

Jangan arahkan perjuangan ke jalan buntu. Ibarat berjalan dalam gelap gulita lalu salah arah. Berhenti mengikat leher bangsa ini dengan tali kekuasaan. Berhenti membiarkannya tertakluk di tanahnya sendiri.

Penuhilah kesadaran pada diri masing-masing. Jadikan diri panutan kebenaran. Arahkan perjuangan ini ke jalan yang benar, agar air mata bangsa ini berhenti, agar lukanya sembuh.

Biarlah bangsa ini menanggung tugas terakhir yang belum pernah diwujudkan dunia: menjadi sumber kebebasan dan kebenaran, untuk membebaskan bangsa lain yang masih terjajah, “Berikan tugas suci ini kepada bangsamu”

Opini oleh Sem Yeimo,

Mahasiswa Hukum Universitas Cenderawasih

example 325×300