Scroll ke Bawah Membaca Artikel
DaerahEkonomiNasionalNewsPendidikanRagam

Ricky Kurniawan Ajak Mahasiswa Tak Alergi Politik, Sebut Legislasi Jalan Perjuangkan Kepentingan Rakyat

789
×

Ricky Kurniawan Ajak Mahasiswa Tak Alergi Politik, Sebut Legislasi Jalan Perjuangkan Kepentingan Rakyat

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi III DPRD Jawa Barat, H. Ricky Kurniawan

KORANPUBLIKA.CO.ID|Bandung,- Generasi muda didorong untuk tidak menjaga jarak dari dunia politik. Sebaliknya, politik perlu dipahami sebagai ruang partisipasi yang memungkinkan lahirnya perubahan nyata bagi masyarakat melalui kebijakan dan regulasi yang berpihak kepada kepentingan publik, Senin(19/10/2026).

Pesan tersebut disampaikan Anggota Komisi III DPRD Jawa Barat, H. Ricky Kurniawan, saat menjadi narasumber pada Puncak Sekolah Legislatif 2026 bertema “Dari Gagasan Menuju Regulasi: Membangun Legislator Muda yang Responsif” yang digelar di rooftop Gedung DPRD Jawa Barat, Senin (19/10/2026). Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung dari berbagai daerah di Indonesia.

Scroll ke Bawah Terus Membaca Artikel
Example 300x600
Advertorial

Dalam paparannya, Ricky menegaskan bahwa politik tidak dapat dipisahkan dari proses pembangunan bangsa. Menurutnya, kualitas sebuah kebijakan sangat bergantung pada karakter dan integritas pihak yang merumuskan serta menjalankannya.

Ia menjelaskan bahwa selama ini masih banyak anak muda yang memandang politik secara negatif. Padahal, apabila dijalankan dengan penuh tanggung jawab, politik dapat menjadi sarana untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

“Perubahan yang besar sering kali lahir melalui kebijakan. Karena itu, dibutuhkan orang-orang yang memiliki komitmen dan integritas untuk terlibat di dalamnya,” ujarnya.

Ricky mengungkapkan, dirinya pun pernah memiliki pandangan yang kurang baik terhadap dunia politik. Namun, pengalaman serta nasihat dari para guru dan ulama mengubah cara pandangnya. Ia kemudian melihat politik sebagai salah satu instrumen pengabdian yang dapat digunakan untuk mewujudkan kemaslahatan yang lebih luas.

Menurutnya, kritik dan gagasan yang berkembang di tengah masyarakat memang penting, tetapi perubahan akan lebih efektif ketika gagasan tersebut dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang memiliki kekuatan hukum dan dampak konkret.

Di hadapan para peserta, Ricky juga membagikan pengalaman hidupnya sebagai bentuk motivasi bagi mahasiswa. Ia menceritakan masa kecil yang tidak selalu mudah, terutama setelah kehilangan sosok ayah pada usia yang masih belia.

Situasi tersebut membuat keluarganya harus berjuang keras memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sang ibu menjadi tulang punggung keluarga melalui berbagai usaha kecil yang dijalankan demi menopang kehidupan anak-anaknya.

Keterbatasan ekonomi tidak membuatnya menyerah. Kesempatan menempuh pendidikan di pesantren menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Melalui lingkungan pesantren, ia belajar tentang kemandirian, kedisiplinan, dan kerja keras sebelum akhirnya melanjutkan studi ke Kairo, Mesir.
Dari pengalaman itu, Ricky menekankan bahwa tantangan hidup seharusnya menjadi pemicu untuk terus berkembang, bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

“Keadaan tidak selalu menentukan masa depan seseorang. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus belajar dan berusaha,” katanya.

Ia pun mengajak mahasiswa agar memanfaatkan kesempatan pendidikan yang dimiliki saat ini untuk meningkatkan kapasitas diri sekaligus menyiapkan kontribusi terbaik bagi bangsa.

Selain membahas peran generasi muda dalam politik, Ricky menyoroti perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, termasuk penggunaan kecerdasan buatan (AI).

Menurutnya, kemajuan teknologi memberikan banyak manfaat karena memudahkan akses terhadap informasi dan pengetahuan. Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan berupa maraknya penyebaran hoaks dan berbagai bentuk manipulasi informasi.

Karena itu, mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan literasi digital yang baik, mampu memverifikasi informasi, serta tidak mudah mempercayai setiap narasi yang beredar di ruang publik.

Ia mengingatkan bahwa informasi yang terus diulang belum tentu mencerminkan fakta yang sebenarnya. Oleh sebab itu, kemampuan berpikir kritis menjadi modal penting, terutama bagi generasi muda yang kelak akan terlibat dalam proses pengambilan keputusan.

Menurut Ricky, calon pemimpin harus mampu membedakan antara fakta, opini, dan upaya pembentukan persepsi agar tidak mudah terjebak dalam informasi yang menyesatkan.

Dalam sesi tersebut, Ricky juga menyinggung berbagai pandangan negatif yang kerap diarahkan kepada lembaga legislatif. Ia memahami bahwa kritik masyarakat merupakan bagian dari proses demokrasi yang harus diterima sebagai bahan evaluasi.

Meski begitu, ia menilai kondisi tersebut tidak boleh membuat generasi muda apatis terhadap politik. Justru, semakin banyak anak muda yang memiliki kepedulian sosial dan integritas terlibat dalam politik, semakin besar peluang menghadirkan perubahan positif dalam sistem pemerintahan.

Ia berharap para peserta Sekolah Legislatif mampu tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang peka terhadap persoalan rakyat, memiliki karakter kuat, serta mampu mengubah ide dan gagasan menjadi kebijakan yang memberikan manfaat luas.

Menutup pemaparannya, Ricky mengajak mahasiswa untuk terus menjaga optimisme serta menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air.

Melalui kegiatan Sekolah Legislatif 2026, para peserta diharapkan tidak hanya memahami proses pembentukan regulasi, tetapi juga memiliki keberanian untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa melalui gagasan yang inovatif, kritis, dan berpihak kepada kebutuhan masyarakat.

example 325×300