KORANPUBLIKA.CO.ID|Kepulauan Riau,- Di tengah denyut pembangunan yang terus bergerak, Batam berdiri sebagai menara harapan di perbatasan negeri. Ia bukan sekadar kota industri dan perdagangan, melainkan ruang pertemuan peradaban yang mempertemukan beragam latar budaya, bahasa, dan cita-cita. Dari masa ke masa, Batam tumbuh dari pulau yang sunyi menjadi kota metropolitan yang dinamis. Pertumbuhan itu bukan hanya soal infrastruktur dan investasi, tetapi juga tentang bagaimana bahasa menjadi fondasi kemajuan yang bermartabat.
Sejak ditetapkan sebagai kawasan strategis melalui peran Badan Pengusahaan Batam, Batam menjelma menjadi simpul ekonomi yang menghubungkan Indonesia dengan dunia internasional. Letaknya yang berhadapan langsung dengan Singapore dan dekat dengan Malaysia menjadikan Batam sebagai ruang interaksi lintas bangsa. Dalam situasi seperti ini, bahasa memainkan peran sentral sebagai jembatan komunikasi, diplomasi, dan kerja sama.
Namun kemajuan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi semata. Kota yang besar adalah kota yang bermartabat, dan martabat dibangun melalui kesadaran berbahasa yang baik dan benar. Bahasa mencerminkan karakter kolektif masyarakatnya. Ketika ruang publik dipenuhi dengan tutur yang santun, ketika media menyajikan informasi dengan bahasa yang tertata, ketika generasi muda mampu berargumentasi secara logis dan etis, di situlah kemajuan menemukan makna sejatinya.
Batam adalah miniatur Indonesia. Keberagaman etnis dan budaya berpadu dalam harmoni sosial yang unik. Bahasa Indonesia menjadi perekat utama, sementara bahasa daerah dan bahasa asing menjadi warna yang memperkaya. Tantangannya adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara keterbukaan global dan keteguhan identitas nasional. Modernitas tidak boleh mengikis akar budaya. Justru melalui bahasa yang terjaga, Batam dapat menunjukkan jati dirinya sebagai kota kosmopolitan yang tetap berakar pada nilai-nilai Melayu dan keindonesiaan.
Dalam konteks kebudayaan, Kepulauan Riau memiliki warisan bahasa Melayu yang agung. Nilai kesantunan, kearifan, dan keteduhan dalam tradisi Melayu dapat menjadi inspirasi dalam membangun etika komunikasi publik. Jika bahasa menjadi landasan, maka pembangunan fisik akan sejalan dengan pembangunan karakter. Menara Batam yang sesungguhnya bukan hanya gedung-gedung tinggi yang menjulang, melainkan kualitas warganya dalam berpikir, bertutur, dan bertindak.
Sebagai insan pendidikan dan kebudayaan, saya memandang bahwa kemajuan Batam harus ditopang oleh gerakan literasi yang kuat. Sekolah, kampus, media, dan lembaga pemerintahan perlu bersinergi membangun budaya baca dan budaya tulis yang bermutu. Bahasa harus menjadi sarana penguatan intelektual, bukan sekadar alat komunikasi praktis. Melalui bahasa yang tertib dan bernalar, lahir kebijakan yang bijak dan keputusan yang berpihak pada kemaslahatan bersama.
Dari masa ke masa, Batam telah membuktikan kemampuannya beradaptasi dengan perubahan. Kini saatnya melangkah lebih jauh menuju kemajuan yang tidak hanya cepat, tetapi juga beradab. Bahasa adalah kompas yang menjaga arah agar pembangunan tidak kehilangan nilai. Dengan bahasa yang santun, berpikir yang jernih, dan komitmen terhadap identitas budaya, Batam akan terus menjulang sebagai menara kemajuan yang bermartabat di gerbang barat Indonesia.
Opini Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain Provinsi Kepulauan Riau












