KORANPUBLIKA.CO.ID|Bandung,- Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan perlunya kerja sama lintas sektor dalam menghadapi ancaman bencana yang semakin kompleks di Jawa Barat, khususnya di Kota Bandung. Hal itu ia sampaikan dalam acara Buka Bersama dan Silaturahmi Relawan serta Potensi SAR se-Jawa Barat, Jabodetabek, dan Banten yang digelar di Taman Pramuka, Sabtu (7/3/2026).
Dalam pidatonya, Farhan menyoroti dampak cuaca ekstrem yang baru-baru ini melanda Bandung Raya. Ia menyebut, hanya dalam waktu satu jam hujan deras disertai angin kencang telah merobohkan 23 pohon berdiameter besar di berbagai titik kota. “Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa cuaca ekstrem kini menjadi faktor dominan dalam kebencanaan kita,” ujarnya.
Selain cuaca, Farhan menekankan dua risiko besar yang mengintai Bandung: potensi gempa akibat Sesar Lembang dan bencana hidrometeorologi. Ia mencontohkan banjir di Cisaranten Kulon yang terjadi karena sistem irigasi sawah terhimpit pemukiman, serta ancaman longsor di kawasan Grand Cokro, Cihampelas, akibat aliran air curam yang kini mengarah ke permukiman padat.
Farhan juga mengingatkan bahwa penanganan bencana di kota besar kerap berbenturan dengan masalah sosial. Program normalisasi sungai, seperti di Maleer dalam rangka Citarum Harum, sering menimbulkan konflik karena adanya warga yang sudah lama bermukim di bantaran sungai.
Karena itu, ia mengajak relawan untuk tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis penyelamatan, tetapi juga pendekatan sosial dalam pemulihan pasca-bencana. “Pertolongan jangan bersifat sporadis. Kita harus memastikan korban bisa kembali hidup layak,” tegasnya.
Di akhir sambutan, Farhan memberikan apresiasi kepada panitia, Kang Darmanto, serta komunitas relawan dari berbagai daerah, termasuk Jabodetabek, Banten, Jawa Tengah, PMI, dan Gerakan Pramuka. “Ketangguhan masyarakat diukur dari kemampuan untuk bangkit kembali. Kolaborasi inilah yang akan menguatkan masa depan Indonesia,” pungkasnya.
















