KORANPUBLIKA.CO.ID|Bandung,– Menjelang pelaksanaan ibadah kurban tahun ini, Perkumpulan Juru Sembelih Halal (Juleha) Jawa Barat menekankan pentingnya edukasi bagi masyarakat dan pengurus masjid agar proses penyembelihan hewan kurban tidak lagi sekadar menjadi tradisi tahunan, melainkan ibadah yang memenuhi standar syariat dan kaidah Kesejahteraan Hewan (Kesrawan), Selasa(21/4/2026).
Ketua Juleha Jawa Barat, Yusuf Supriatna, mengungkapkan bahwa berdirinya organisasi ini pada tahun 2016 dipicu oleh keprihatinan melihat praktik penyembelihan di lapangan yang masih jauh dari nilai-nilai agama. Seringkali, hewan kurban diperlakukan kasar atau disembelih dengan alat yang tidak standar.
“Kami menyaksikan kegiatan kurban di masyarakat masih dianggap sebagai kebiasaan atau pembenaran tanpa dasar ilmu. Padahal, kurban adalah ibadah yang memiliki aturan ketat, baik secara syariat maupun aturan pemerintah melalui Permentan dan SKKNI,” ujar Yusuf saat ditemui di Bandung.
Mengutip hadis Rasulullah SAW, Yusuf menjelaskan bahwa Allah mewajibkan perilaku ihsan (baik/profesional) dalam segala hal, termasuk saat menyembelih. Juleha Jabar menitikberatkan pada dua poin utama:
1. Ketajaman Alat: Penggunaan pisau atau golok harus sangat tajam agar potongan lurus dan tidak menyakiti hewan. “Banyak yang hanya asal bisa memotong, tapi caranya seperti menggergaji. Itu menyiksa hewan,” tegasnya.
2. Menyenangkan Hewan (Yurrih Dabihatahu): Mulai dari proses penampungan, pengangkutan, hingga teknik perebahan (handling), hewan harus dalam kondisi tenang dan tidak stres.
Hingga saat ini, Juleha Jabar terus konsisten memberikan pelatihan ke masjid-masjid dengan tiga materi utama:
Fikih Kurban: Memahami landasan hukum ibadah agar tidak tertolak.
Manajemen Alat: Edukasi memilih bahan golok yang tepat (tidak mudah berkarat) serta teknik mengasah hingga mencapai level ketajaman yang mumpuni.
Teknik Handling: Cara mengidentifikasi dan menangani hewan stres agar menghasilkan daging yang halalan thayyiban (halal dan berkualitas baik).
Yusuf juga mengimbau masyarakat dan panitia kurban untuk tidak ragu berinvestasi pada alat sembelih yang berkualitas. Mengingat harga hewan kurban yang mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah, sangat disayangkan jika ibadah tersebut menjadi sia-sia hanya karena penggunaan alat yang ala kadarnya.
“Persiapan alat adalah bagian dari persiapan ibadah. Kami di Juleha bekerja sama dengan para pembuat golok yang memiliki komitmen pada standar syariat, seperti Karibou Knives di Ciganitri, Bandung, untuk memastikan alat yang digunakan tepat bahan dan kekuatannya,” tambahnya.
Meski telah bergerak selama 10 tahun, Yusuf mengakui tantangan di lapangan masih besar. Di Bandung saja, terdapat sekitar 3.800 masjid, namun yang sudah tersentuh edukasi belum mencapai 10 persennya.
“PR kita masih banyak. Dakwah ini tidak bisa dilakukan sendiri. Kami mengajak semua pihak yang memiliki kegelisahan yang sama untuk bergerak bersama, agar syiar agama melalui ibadah kurban ini semakin baik dari tahun ke tahun,” pungkasnya.










