KORANPUBLIKA.CO.ID|Bandung,- Di jantung Kota Bandung berdiri sebuah bangunan yang bukan hanya menjadi rumah ibadah, tetapi juga saksi perjalanan panjang sejarah: Masjid Agung Bandung. Sejak didirikan pada tahun 1812, masjid ini telah menjadi pusat spiritual, budaya, sekaligus ruang pertemuan masyarakat lintas zaman, Kamis(7/5/2026).
Ketua Nazir Masjid Agung Bandung, Roedy Wiranatakusumah, menyebut masjid ini sebagai “episentrum pembelajaran dan peradaban.” Baginya, setiap sudut masjid menyimpan cerita tentang bagaimana Islam tumbuh bersama budaya Sunda, membentuk harmoni yang dikenal sebagai Islam Sunda dan Sunda Islam.
Masjid Agung Bandung juga memiliki kaitan erat dengan peristiwa bersejarah Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955. Presiden Sukarno dikisahkan kerap datang ke masjid ini untuk mencari inspirasi sebelum perhelatan besar yang melahirkan Dasasila Bandung dan Gerakan Non-Blok.
“Setelah konferensi selesai, para pemimpin negara yang beragama Islam berhikmat di Masjid Agung Bandung. Sementara tamu non-muslim menjadikannya kesempatan mengenal sejarah dan budaya Islam di Bandung,” tutur Roedy.
Bagi warga Bandung, masjid ini bukan sekadar bangunan tua. Setiap hari, jamaah dari berbagai kalangan datang untuk beribadah, belajar, atau sekadar merasakan ketenangan di tengah hiruk-pikuk kota. Anak-anak belajar mengaji, para orang tua berbincang selepas salat, sementara wisatawan menikmati keindahan arsitektur yang memadukan nuansa tradisi dan modernitas.
Atmosfer kebersamaan itu membuat Masjid Agung Bandung tetap hidup sebagai pusat peradaban. “Dengan usia 215 tahun, masjid ini layak dikenang sebagai catatan sejarah penting bagi masa depan,” ujar Roedy penuh harap.
Roedy membuka kemungkinan agar masjid ini ditetapkan sebagai situs heritage atau cagar budaya. Meski penetapan resminya masih menunggu kajian para ahli, masyarakat sudah lebih dulu menempatkan Masjid Agung Bandung sebagai warisan berharga yang harus dijaga.
Bagi warga Bandung, Masjid Agung bukan hanya simbol religius, tetapi juga ruang kebersamaan, tempat di mana sejarah, budaya, dan spiritualitas berpadu dalam satu harmoni.











