KORANPUBLIKA.CO.ID|Bandung,– Upaya meningkatkan daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pangan lokal terus dilakukan melalui penguatan kapasitas manajemen, pengelolaan keuangan, pemasaran digital, serta pemanfaatan teknologi informasi. Salah satunya dilakukan melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) kepada UMKM Wajit Aroma Rasa di Desa Mekarmukti, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat.
Program bertajuk “Pemberdayaan UMKM Wajit Aroma Rasa melalui Pendampingan Manajemen Usaha dan Pemasaran Digital untuk Meningkatkan Daya Saing UMKM Pangan Lokal” tersebut dilaksanakan oleh tim dosen Politeknik LP3I. Program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Tim pelaksana terdiri atas Hadiansyah Ma’sum, S.Pd., S.T., M.Kom. sebagai ketua, dengan anggota Andina Dwijayanti, S.E., M.M., Rita Komalasari, S.Si., M.Kom., dan Riri Rumaizha, S.E., M.AK.
Kegiatan pendampingan dilaksanakan pada Selasa, 28 Juli 2026 dan Kamis, 6 Agustus 2026, dengan melibatkan pelaku UMKM Wajit Aroma Rasa dan Madu Rasa. Kegiatan tersebut dibuka dengan sambutan dari Sekretaris Desa Mekarmukti, Yadi Damanhuri, S.T., yang menyambut baik program pemberdayaan masyarakat yang melibatkan perguruan tinggi dan pelaku UMKM di wilayah Desa Mekarmukti.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan sejumlah materi yang dirancang untuk menjawab kebutuhan pengembangan UMKM secara praktis. Yuyun Taufik, S.Pd., M.Si. memberikan materi mengenai Manajemen Bisnis UMKM Wajit Aroma Rasa dan Madu Rasa. Materi tersebut diarahkan untuk membantu pelaku usaha memperkuat pengelolaan bisnis, mulai dari perencanaan usaha hingga pengembangan usaha secara berkelanjutan.
Sementara itu, Riri Rumaizha, S.E., M.AK. memberikan materi “Pengelolaan Keuangan UMKM untuk Meningkatkan Profitabilitas dan Keberlanjutan Usaha.” Penguatan aspek keuangan menjadi salah satu bagian penting dalam program karena pencatatan dan pengelolaan keuangan yang tertib dapat membantu pelaku UMKM mengetahui kondisi usaha, mengendalikan biaya, menghitung keuntungan, serta mengambil keputusan bisnis secara lebih tepat.
Transformasi digital juga menjadi bagian utama dalam pendampingan. Hadiansyah Ma’sum, S.Pd., S.T., M.Kom.memberikan materi mengenai Perancangan Sistem Informasi Manajemen UMKM (SIMU) dan E-Commerce untuk Meningkatkan Daya Saing UMKM Wajit Aroma Rasa dan Madu Rasa Berbasis Digital.
Melalui pendampingan tersebut, mitra UMKM tidak hanya diberikan pemahaman mengenai pemasaran digital, tetapi juga dibantu dalam pengembangan sistem informasi manajemen UMKM dan e-commerce. Sistem tersebut diharapkan dapat mendukung pengelolaan data usaha, produk, transaksi, serta aktivitas pemasaran sehingga proses bisnis UMKM dapat dilakukan secara lebih terintegrasi.
Selain itu, Taufik Furqon Nurhakim, S.I.Kom., M.I.Kom. memberikan materi mengenai strategi pemasaran digital UMKM Wajit. Materi ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan mitra dalam memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi, membangun identitas produk, memperluas jangkauan pasar, serta meningkatkan interaksi dengan calon konsumen.
Tidak hanya menyentuh aspek manajemen dan pemasaran, program PKM tersebut juga memberikan dukungan dalam peningkatan proses produksi. Untuk membantu meningkatkan efisiensi produksi wajit yang sebelumnya masih dilakukan secara manual, mitra mendapatkan mesin pengaduk otomatis.
Pemberian mesin tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi beban kerja manual, meningkatkan efisiensi waktu produksi, menjaga konsistensi proses pengadukan, serta mendukung peningkatan kapasitas produksi UMKM Wajit Aroma Rasa.
Ketua tim PKM Politeknik LP3I, Hadiansyah Ma’sum, mengatakan bahwa program tersebut dirancang tidak hanya untuk memberikan pengabdian, tetapi juga menghadirkan pendampingan yang dapat langsung diterapkan oleh mitra dalam kegiatan usaha sehari-hari.
“Harapan kami, setelah mengikuti program pendampingan manajemen usaha dan pemasaran digital ini, UMKM Wajit Aroma Rasa dapat meningkatkan daya saingnya dari tingkat lokal hingga mampu menembus pasar nasional. Hal tersebut perlu didukung dengan proses manajemen bisnis yang baik, pengelolaan keuangan yang tertib, strategi pemasaran digital, serta pemanfaatan sistem informasi manajemen UMKM,” ujar Hadiansyah.
Menurutnya, digitalisasi UMKM bukan sekadar membuat produk memiliki media pemasaran secara online, tetapi juga bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memperbaiki proses bisnis secara keseluruhan.
“Dengan adanya sistem informasi manajemen UMKM dan e-commerce, kami berharap mitra dapat mulai membangun tata kelola usaha yang lebih modern dan berbasis data. Ditambah dengan dukungan mesin produksi, UMKM diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas pasar,” tambahnya.
Program pemberdayaan tersebut juga menjadi bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mendorong penguatan ekonomi berbasis potensi lokal. Wajit sebagai salah satu produk pangan khas Cililin memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk unggulan daerah dengan jangkauan pasar yang lebih luas.
Melalui integrasi manajemen usaha, pengelolaan keuangan, peningkatan kapasitas produksi, pemasaran digital, sistem informasi manajemen, dan e-commerce, UMKM Wajit Aroma Rasa diharapkan mampu melakukan transformasi dari pola usaha konvensional menuju UMKM yang lebih profesional, efisien, adaptif terhadap teknologi, dan memiliki daya saing.
Program tersebut sekaligus menunjukkan peran perguruan tinggi tidak hanya dalam bidang pendidikan dan penelitian, tetapi juga dalam memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan ekonomi masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan UMKM.
Dengan pendampingan yang berkelanjutan, Wajit Aroma Rasa diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan eksistensinya sebagai produk pangan lokal Cililin, tetapi juga berkembang menjadi produk UMKM unggulan Kabupaten Bandung Barat yang mampu bersaing di pasar nasional.









