KORANPUBLIKA.CO.ID|Jayapura, Papua,- Negara, Agama, Perusahaan, dan Aparat Bersenjata (NAPAS) adalah satu paket napas kolonial atau Kapitalis. PAPUA Ibarat babi hutan liar yg hidup bebas di rimba adatnya sendiri, Senin(29/6/2026).
Ketika babi liar susah diburu, dipanggillah suara yg paling didengar utk menjinakkan pikirannya yakni pemimpin Agama atau Gereja. Dari mimbar rakyat diajarkan supaya tenang, sabar, jangan melawan, jangan curiga pada negara yang sedang merampas tanahnya.
Penjajahan dibungkus doa. Perampasan dibungkus khotbah kerukunan. Setelah cukup jinak, babi dimasukkan ke kandang kolonial bernama pembangunan. Di sana ia memang diberi makan, tetapi hanya supaya tetap hidup dan tunduk.
Hidup matinya ditentukan pemilik kandang (Pemerintah/Negara). Sementara penjaga kandang (Aparat Militer) berdiri dengan senjata untuk memastikan babi tidak kembali liar dan lari.
Di saat yang sama, para pemburu keuntungan masuk menguliti hutan, gunung dan sungai Papua (Perusahaan/Investor). Kayu diangkut, emas dikeruk, tanah adat dirampas, sementara orang Papua dipaksa hidup sebagai penonton miskin di tanahnya sendiri.
Ketika film PESTA BABI membongkar fakta kehancuran hutan dan penderitaan rakyat, satu paket NAPAS kolonialis/kapitalis ini ramai-ramai keluar markas mainkan perannya.
Uskup bilang “Film dibungkus agenda kepentingan politik, padahal ia justru aktif dalam paket politik penjajah yg memakai mimbar agama untuk menjinakkan rakyat agar menerima penjajahan Sebagai hal normal atau pembangunan?
Ketika Negara dan Perusahaan tuduh ada bantuan asing di balik film, kita tahu dia yang lebih dulu membawa modal asing masuk ke Papua lewat Freeport, dan lain-lain yang menjual dan gadai gunung, emas, hutan dan tanah adat kepada investor asing? Korporasi asing yang bikin hancur Papua disebut pembangunan, tetapi bantuan kecil untuk membongkar kejahatan justru disebut ancaman?
Jadi lihat para aktor NAPAS Kolonial/Kapitalis resah dan gelisah. Negara menjinakkan lewat bantuan dan aturan. Gereja menjinakkan lewat mimbar dan moralitas.
Aparat menjinakkan lewat ketakutan dan senjata. Perusahaan menjinakkan lewat uang dan ketergantungan ekonomi. Semua sedang bekerja agar bangga Papua tetap diam di kandang kolonial, sampai lupa bahwa mereka pernah hidup bebas di tanahnya sendiri.
Opini oleh Victor Yeimo
Tokoh Politik Papua









