Scroll ke Bawah Membaca Artikel
DaerahNasionalNewsRagam

Komisi V DPRD Jabar Dorong Sekolah Maung Jadi Pusat Lahirnya Generasi Unggul

686
×

Komisi V DPRD Jabar Dorong Sekolah Maung Jadi Pusat Lahirnya Generasi Unggul

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Jawa Barat Komisi V dari Fraksi PAN, H. M Hasbullah Rahmad, S.PD., M.Hum

KORANPUBLIKA.CO.ID|Sukabumi,- Anggota DPRD Jawa Barat Komisi V dari Fraksi PAN, H. M Hasbullah Rahmad, S.PD., M.Hum,  menilai program Sekolah Maung yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat merupakan langkah strategis untuk mengembalikan kejayaan sekolah unggulan negeri di daerah, Jumat(22/5/2026).

Hal itu disampaikan Bang Has usai kunjungan kerja Komisi V DPRD Jabar ke sejumlah sekolah di Sukabumi, yakni SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, dan SMK Negeri 1 yang ditunjuk sebagai bagian dari program Sekolah Maung.

Scroll ke Bawah Terus Membaca Artikel
Example 300x600
Advertorial

Menurutnya, program tersebut lahir dari keinginan Gubernur Jawa Barat untuk menciptakan sekolah unggulan di setiap kabupaten dan kota agar mampu mencetak generasi berdaya saing global serta memiliki karakter kuat.

“Sekolah Maung ini bertujuan mencetak regenerasi calon-calon pemimpin masa depan yang memiliki kualitas akademik unggul, berdaya saing global, tetapi juga punya karakter dan budi pekerti berdasarkan filosofi Pancawaluya,” ujar Bang Has.

Ia menjelaskan, selama ini kualitas sekolah negeri dinilai mengalami penurunan akibat sistem penerimaan siswa yang tidak mempertimbangkan klasifikasi kemampuan akademik sekolah. Akibatnya, sekolah unggulan negeri semakin sulit bersaing dengan sekolah swasta favorit.

“Sekarang sekolah negeri unggulan mulai kehilangan marwahnya. Banyak orang tua lebih memilih sekolah swasta unggulan karena dianggap lebih siap dari sisi lingkungan, kurikulum, dan kualitas lulusannya,” katanya.

Bang Has menyebut Sekolah Maung diharapkan menjadi solusi untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri. Program ini juga diharapkan mampu meningkatkan jumlah lulusan sekolah negeri yang diterima di perguruan tinggi negeri.

Dalam pelaksanaannya, kata dia, Sekolah Maung menerapkan seleksi ketat melalui jalur akademik dan non-akademik. Untuk jalur akademik, siswa yang diterima memiliki standar IQ tinggi, sementara jalur non-akademik diperuntukkan bagi siswa berprestasi di bidang seni, olahraga, keagamaan, hingga organisasi.

Namun demikian, Bang Has mengingatkan agar kesiapan sekolah benar-benar diperhatikan, mulai dari kompetensi guru, fasilitas belajar, hingga sarana penunjang sesuai minat dan bakat siswa.

“Kalau anak-anak yang punya kemampuan khusus dikumpulkan dalam satu kelas, maka sekolah juga harus siap dengan guru dan fasilitas yang sesuai. Jangan sampai kualitas siswa bagus, tapi sarana dan sistemnya belum siap,” ujarnya.

Ia juga menyoroti belum adanya sistem boarding school dalam program Sekolah Maung. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi beban tambahan bagi orang tua siswa yang berasal dari daerah jauh karena harus mengeluarkan biaya kos atau transportasi.

Karena itu, Komisi V DPRD Jabar mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat membangun Sekolah Maung dengan konsep asrama seperti SMA Taruna Nusantara atau Sekolah Garuda.

“Kami berharap sekolah Maung di Purwakarta yang lahannya sekitar 9 hektare bisa dibangun lengkap dengan asrama, laboratorium, sarana olahraga, dan fasilitas penunjang lainnya sehingga benar-benar menjadi sekolah unggulan berkonsep boarding school,” katanya.

Bang Has juga meminta proses seleksi dilakukan secara transparan dan memiliki mekanisme penilaian yang jelas agar tidak menimbulkan polemik di masyarakat. Menurutnya, sistem penilaian bagi siswa jalur non-akademik harus memiliki bobot dan parameter yang terukur, misalnya berdasarkan jenjang prestasi kabupaten, provinsi, hingga nasional.

“Jangan sampai sekolah menjadi bulan-bulanan orang tua, LSM, atau wartawan karena proses seleksinya dianggap tidak jelas. Semua harus dibuat transparan dan terukur,” tegasnya.

Selain itu, ia meminta pemerintah menyiapkan sekolah penyangga untuk menampung calon siswa yang tidak lolos Sekolah Maung. Pasalnya, minat masyarakat terhadap program tersebut sangat tinggi.

Di Sukabumi sendiri, kata Bang Has, jumlah pendaftar sudah menembus lebih dari 1.000 siswa, sementara daya tampung hanya sekitar 384 siswa.

“Nah, sisanya ini harus diarahkan ke mana? Maka sekolah penyangga harus disiapkan sejak awal,” ujarnya.

Secara prinsip, Bang Has menegaskan Komisi V DPRD Jawa Barat mendukung penuh program Sekolah Maung karena dinilai menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Jawa Barat serta mencetak generasi unggul di masa depan.

example 325×300