Scroll ke Bawah Membaca Artikel
DaerahEkonomiNasionalNewsRagam

Harga Energi Nonsubsidi Melejit, Hasbullah Rahmat: Imbas Konflik Global, Syukuri BBM Subsidi Tetap Stabil

588
×

Harga Energi Nonsubsidi Melejit, Hasbullah Rahmat: Imbas Konflik Global, Syukuri BBM Subsidi Tetap Stabil

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Jawa Barat Komisi IV, H. M Hasbullah Rahmat, S.PD, M. Hum.,

KORANPUBLIKA.CO.ID|Bandung,- Kenaikan harga sejumlah komoditas bahan bakar minyak (BBM) dan gas LPG nonsubsidi di pasaran tengah menjadi sorotan. Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi 5 DPRD Jawa Barat dari Fraksi DPRD Jabar, H. M Hasbullah Rahmat, S. PD., M. Hum, memberikan penjelasan mendalam mengenai kaitan antara dinamika ekonomi global dengan harga energi di dalam negeri,

​Bang Has memaparkan bahwa kenaikan ini mencakup berbagai jenis bahan bakar kelas atas. Ia mencontohkan harga Pertamax Turbo yang kini menyentuh angka Rp19.900, serta Solar industri (non-subsidi) yang melonjak signifikan menjadi Rp23.900. Tak hanya BBM, harga LPG nonsubsidi tabung 12 kg pun kini berada di kisaran Rp228.000.

Scroll ke Bawah Terus Membaca Artikel
Example 300x600
Advertorial

​”Kenaikan harga gas dan BBM nonsubsidi ini sangat bergantung pada situasi ekonomi global. Kita tahu perang di Iran belum selesai, melibatkan Amerika dan Israel yang belum juga mereda. Hal ini berdampak langsung pada harga minyak dunia yang naik dari 60 dolar AS menjadi lebih dari 90 dolar AS per barel,” ujar Bang Has saat memberikan keterangan.

​Menurutnya, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah menjadi faktor utama mengapa harga domestik ikut terkoreksi. Berbeda dengan sektor pangan di mana Indonesia sudah mencapai kemandirian beras, sektor energi dinilai masih memiliki tantangan besar dalam hal pemenuhan kebutuhan dalam negeri secara mandiri.

Meski harga nonsubsidi melambung, Bang Has memberikan apresiasi tinggi kepada pemerintah, khususnya Presiden Prabowo Subianto, yang tetap berkomitmen menjaga daya beli masyarakat kecil dengan tidak menaikkan harga BBM dan gas bersubsidi.

​”Saya sangat mengapresiasi Pak Presiden. BBM subsidi seperti Biosolar, Pertalite, dan Pertamax tidak naik. Ini adalah bahan bakar yang dipakai oleh sebagian besar rakyat Indonesia dan menjadi urat nadi usaha kecil,” tegasnya.

​Bang Has menjelaskan bahwa keputusan untuk mempertahankan harga Biosolar dan Pertalite sangat krusial guna mencegah efek domino ekonomi. Jika Biosolar naik, maka tarif angkutan umum seperti bus dan truk pengangkut logistik dipastikan akan melonjak, yang pada akhirnya memicu inflasi tinggi.

​”Alhamdulillah, Pertalite dan Biosolar tidak naik. Begitu juga dengan gas melon 3 kg yang tetap disubsidi. Yang mengikuti harga pasar itu hanya yang nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan LPG 12 kg. Ini menunjukkan pemerintah tetap berpihak pada kebutuhan pokok masyarakat banyak,” pungkas legislator asal Fraksi DPRD Jabar tersebut.

​Bang Has berharap kondisi geopolitik dunia segera stabil agar tekanan terhadap APBN untuk subsidi energi tidak semakin berat, serta mendorong masyarakat yang mampu untuk tetap bijak menggunakan energi nonsubsidi sesuai peruntukannya.

example 325×300